Sunday, May 01, 2016

Rumah-tumah Alami (II): Arlington Row di Bibury, Inggris

foto: natural homes, facebook
Deretan rumah indah ini terletak di Arlington Row, Bibury, Inggris. Usianya sangat tua mengingat bangunan berbatu-batu ini ada sejak tahun 1380.

Rumah-rumah batu ini tak hanya indah daeri segi desain, namun juga menjadi bagian dari sejarah industri wol di Inggris.



Rumah-rumah Alami di Berbagai Penjuru Dunia I

Menjadi orang-orang yang "natural" perlu tindakan nyata. Tak hanya kata-kata. Sedikit orang di dunia ini sanggup mewujudkan pemikiran dan keberpihakannya pada sesuatu yang natural, yang diwujudkan lewat rumah-rumah natural yang mereka bangun.

Natural Homes, yang tampil rutin menyambangiku lewat jejaring facebook membuat hati ini tergugah, Kalau usia dan dana mengizinkan, ingin sekali berkunjung ke rumah-rumah tersebut. Inilah salah satu rumah natural yang saya bicarakan tersebut:

foto: natural homes
Rumah ini dibuat James O’Keefe, pemiliknya, warga Skotlandia,dari pohon ek yang banyak ditemukan di wilayahnya. Desain dari rumah tersebut sengaja mengikuti bentuk kayu-kayu yang ditemukan.

Bentuk rumah tersebut ditentukan oleh kurva dari kayu kayu bulat. Pemiliknya mengkompromikan rencana dan apa yang tersedia di hutan setempat sebagai desain. Itu sesuatu yang menurut pakar. SunRay Kelley adalah arsitektur evolusi.

foto: natural homes

Tuesday, August 12, 2014

Botok Ini Bahannya dari Kebunku Sendiri

Botok itu lauk-pauk yang banyak disukai di Jawa. Variannya cukup banyak. Botok sembukan dari daun sembukan. Botok beluntas dari daun beluntas, botok lamtoro dari daun lamtoro, dll. Keluargaku paling suka botok lamtoro.

Botok lamtoro, tampilan umumnya ya seperti dalam foto ini. Bahan-bahannya kelapa parut, bumbu rimpang seperti lengkuas dll, cabe, blimbing wuluh, lamtoro, ditambah udang atau tempe tahu tambah sedap.

Botok lamtoro yang ada di gambar ini cukup istimewa bagi keluarga kami mengingat rasanya yang mantap dan dibikin sebagiannya dari bahan-bahan yang ada di halaman rumah dan berem samping rumah. Botok ini dibikin oleh istri Pak Ran, tukang kebun yang biasa membersihkan  rumput-rumput liar di berem samping rumahku.


Lahan kosong di rumah (juga di berem sebelah rumah) kumanfaatkan tidak saja untuk menanam buah dan bunga, namun juga rimpang seperti lengkuas, lamtoro (bukan jenis lamtoro gung), pisang tanduk, pisang klutuk, daun sereh, kemangi, cabe, blimbing wuluh, pandan, daun salam dll. Pemanennya sebagian besar adalah ibu-ibu tetangga yang gemar memasak.

Pak Ran, tukang kebun yang biasa dipanggil dari rumah ke rumah untuk membersihkan berem di kompleks perumahanku, terutama rumah pojok, biasanya memanen buah lomtoro di tangkai yang sangat tinggi dan tidak terjangkau para ibu. Sekali panen, Pak Ran biasa membawa sekarung penuh lomtoro. Belum lagi daun pisang klutuk (yang kata Pak Ran enak untuk membungkus botok), daun pandan, dan lain-lain.

Pak Ran biasa panen menjelang sore. Pasti besoknya, pagi-pagi sekali, dia ke rumah sambil membawa botok lamtoro kesukaanku, yang bahan-bahan utamanya dia bawa dari panenan di halaman dan berem samping rumah. "Monggo Bu, ini sudah dimasak istri saya," begitu katanya selalu.

Botok lomtoro bikinan istri Pak Ran menurutku sangat enak. Di samping pedas, juga berair dan tidak bikin neg. Ada lagi yang kusuka. Masakan istri Pak Ran tanpa MSG. Lain bila aku membeli botok di pasar, rasa MSG-nya langsung terasa di lidah.

Apa ya resepnya? Aku sebenarnya pernah diberi resep botok bikinan istrinya. Resepnya sesungguhnya resep biasa saja, seperti yang ada di internet, misalnya. Hanya saja, takarannya bahan-bahannya dikira-kira pakai feeling. Ini yang susah dan bila aku bikin botok sendiri, rasanya belum pernah menyamai rasa botok istri Pak Ran.

Tuesday, October 11, 2011

Bahaya di Balik Buah Impor

foto: antara
Buah impor semakin membanjiri pasaran negeri kita. Durian Bangkok, Apel Fuji dan Australia, Jeruk Lokam, wah, pokoknya banyak benar. Tidak saja supermarket atau hipermarket saja yang menjualnya, namun juga pasar-pasar tradisional, pedagang buah pinggir jalan, sampai pedagang asongan. Tentu saja ini sesuai hukum permintaan dan penawaran. Kalau ada permintaan, pasti ada penawaran.

Masyarakat negeri ini, seringkali lebih suka yang visual daripada yang esensial. Buah impor jelas saja secara visual lebih baik daripada buah lokal. Secara rasa pun, durian Bangkok, misalnya, lebih ampuh ketimbang durian lokal. Tapi dari segi kesehatan dan kemanfaatannya bagi tubuh, benarkah buah impor lebih baik? Benarkah tidak berbahaya dikonsumsi?

Meski bukan peneliti dan tidak aksesibel terhadap data-data Badan Penelitian Obat dan Makanan negeri ini, tapi kita harusnya bertanya-tanya, kenapa jeruk impor yang sudah berbulan-bulan usianya masih tetap segar? Kenapa tampilannya halus dan sungguh menarik secara visual? Sedangkan buah-buahan lokal negeri ini kelihatan ndeso dan tidak menarik kalau dipajang di dekat buah-buahan impor itu. Tapi coba lihat, buah-buahan itu busuk secara alami. Tidak sampai berbulan-bulan.

Banyak kabar yang menyebutkan, buah-buahan impor bisa mengkilap karena ditambahi zat lilin. Buah-buahan impor juga memiliki kandungan-kandungan zat kimia berbahaya. Dan buah-buahan impor yang secara visual bagus dan secara rasa lebih sip itu adalah tanaman transgenik. Tanaman transgenik diduga berbahaya bagi tubuh. Silakan browsing sendiri di internet soal ini.  Di antaranya di sini.

Buat Anda yang menyukai buah-buahan impor, ini saya sempat browsing di internet tentang kandungan berbahayanya. Penelitian ini cukuplah untuk membuktikan bahwa buah-buahan yang masuk di Indonesia sangat berisiko bagi kesehatan. (Herannya, kok bisa masuk ya ke Indonesia?). Untuk kawan-kawan yang memiliki penelitian seperti ini, yuk kita sharingkan. 

Setelah baca hasil-hasil penelitian seperti ini, harusnya kita sama sekali tidak berminat membeli atau mengonsumsi buah impor. Dan kita pun harusnya mencoba mempersuasi lingkungan sekitar kita untuk tidak mengonsumsi buah impor.

Ayo kita dukung gerakan makan buah lokal yang alami dan menyehatkan tubuh. Dan sekali lagi, jangan terjebak yang visual. Kembalilah pada yang esensial.

Monday, October 10, 2011

Blonceng Liar di Kantor Milik Banyak Orang


Siapa yang tahu nama Latinnya Blonceng alias bligo alias labu air alias buah kundur? Saya biasa searching di google untuk masalah-masalah yang tidak saya ketahui. Namun untuk yang satu ini, saya belum menemukan.

Saya tidak tahu apakah Anda tahu apa itu blonceng atau tidak? Blonceng itu labu, kulitnya berwarna hijau keras, dan berbentuk lonjong. Di pasar dekat rumah saya di Sidoarjo, sayur (atau buah?) ini mudah ditemukan. Harganya murah. Seperti harga pepaya. Saya biasa menambahkannya di rawon bikinan saya. Menurut saya, rawon yang ditambahi blonceng, jadi semakin sedap. Di samping tentu saja lebih sehat. Atau, saya juga biasa menumisnya, ditambahi daging.

Blonceng yang saya sukai ini ternyata tumbuh di dekat ruangan tempat kerja saya di kantor. Sebelumnya saya belum pernah tahu, seperti apa rupa tumbuhan blonceng, meskipun suka mengonsumsinya. Tumbuhan ini menjalar subur di pagar kawat, di dekat bak penampungan air. Semula saya mengira, tumbuhan ini hanyalah semak-semak liar, jadi saya tak memperhatikannya lebih jauh. Namun, pada suatu pagi mata saya melihat melihat buah-buahnya menjadi besar, serupa dengan sayur (buah) yang biasa saya beli di pasar. Saya segera mengamati dan langsunng tanya salah satu staf lapangan di kantor saya, Pak Suroso, apakah tumbuhan itu blonceng? Pak Suroso langsung mengiyakan dan menceritakan segala hal yang berkaitan dengan tanaman yang saya sebut itu.

Menurut Pak Suroso, tanaman itu tumbuh dengan sendirinya sehingga kepemilikannya jadi kolektif. Buah blonceng itu ditunggu-tunggu kematangannya oleh beberapa kawan dan mereka bergantian memanen. "Meskipun harga di pasar murah, tapi kalau memanen sendiri kepuasannya lebih besar," ujar Pak Suroso.

Blonceng  liar yang buahnya lumayan lebat itu, kini oleh teman-teman juga dikembangbiakkan di tempat-tempat lain di sekitar kantor. 


Menurut pak Suroso yang asal Malang Selatan dan suka bercocok tanam ini, Surabaya potensial untuk ditanami Blonceng karna tumbuhan menjalar ini bisa tumbuh di udara kering maupun basah. Tapi toh orang-orang kota yang punya halaman (taman) luas sekalipun, jarang mau memanfaatkan tanahnya untuk menanam sayuran di rumah, apalagi blonceng. "Mana ada orang kota mau menanam sayuran di halaman rumah? Lombok pun jarang ada yang menanam. Mungkin orang-orang kota merasa bisa membeli sehingga kalau bisa beli, kenapa susah-susah nanam?" kata Pak Suroso.  

Memang benar kata-kata Pak Suroso yang bersahaja ini. Jarang ada orang kota yang mau memanfaatkan lahannya untuk bertanam sayuran. Apa pun itu, apalagi blonceng. Orang baru ramai-ramai nanam cabe saat harga cabe naik. Dan saat harga cabe turun lagi, tanaman ini hilang dari halaman rumah.

Padahal menanam sayuran di halaman rumah banyak manfaatnya. Dari segi kesehatan, jelas kita ingin mengonsumsi makanan sehat. Karena kita tahu bahaya zat kimia sintetes berbahaya, jelas sayuran yang kita tanam bebas dari bahan-bahan tersebut.

Sayuran di pasar tradisional, apalagi di supermarket ataupun hypermarket, tak ada jaminan  bebas dari bahan kimia berbahaya itu, bukan?

Nah, ayo mulai kita tanam sayur di rumah sendiri. Bisa di dalam pot kok, nanamnya.

Monday, August 15, 2011

Bahaya Rhodamin B di Sekitar Kita


Ini zaman sepertinya terus bergerak menuju zaman instan. Orang lebih suka hasil daripada proses. Orang suka dengan kemudahan meski kemudahan itu tidak mendatangkan maslahat pada akhirnya.

Kini saya ingin cerita tentang penjual es campur di dekat rumah saya. Penjual itu selalu mewarnai nanasnya dengan warna kuning mencolok. Rumput laut yang sebetulnya berwarna putih kusam, dia warnai jadi hijau. Sedangkan kolang-kaling yang berwarna putih jadi merah. Sirup untuk es campur pun berwarna merah.

Kenapa diwarnai? "Kalau nggak dikasih warna seperti ini nggak laku, Mbak," katanya.
"Lo, memangnya pernah nyoba, menjajakan es campur nggak dikasih warna?" tanya saya.

"Nggak pernah sih, Mbak. Tapi siapa to yang mau beli dagangan saya kalau warnanya nggak cerah," kilahnya.

Zat-zat pewarna itu dia dapatkan dengan mudah di toko. "Dosis pakainya terserah, yang penting nyolok," katanya.

Penjual tersebut tidak mau susah-susah mencari daun suji untuk efek warna hijau ataupun secang untuk warna merah, misalnya.Padahal Tuhan menganugerahkan bermacam-macam tanaman seperti daun suji dan secang yang bisa dipakai sebagai pewarna alami makanan dan minuman. Namun dia lebih mempercayai bahan makanan kimia sintetis pabrikan daripada yang alami. Padahal, sudah jelas yang sintetis berbahaya bagi kesehatan. Apalagi kalau menumpuk dalam tubuh dalam jumlah besar.

Cobalah kita berpikir, berapa banyak bahan-bahan pewarna sintetis yang masuk ke tubuh kita kalau kita sering membeli es campur yang seperti ini. Belum lagi kalau pewarna sintetis tersebut merupakan rhodamin B. 


Rhodamin B, menurut situs ini merupakan pewarna sintetis yang berasal dari metanlinilat dan dipanel alanin yang berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah. Rhodamin B sering diselahgunakan untuk pewarna pangan (kerupuk,makanan ringan,es-es dan minuman yang sering dijual di sekolahan) serta kosmetik dengan tujuan menarik perhatian konsumen. Rhodamin B dan Methanyl Yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang penggunaannya dalam makanan (Peraturan Menkes No.1168/Menkes/ PER/ X/ 1999)

Uji coba pada tikus yang diberi Rhodamin B selama satu minggu menunjukkan adanya pembesaran organ berupa peningkatan berat hati, ginjal, dan limpa.

Kita dapat mengenali ciri makanan yang menggunakan Rhodamin B, yaitu biasanya makanan yang diberi zat pewarna ini lebih terang atau mencolok warnanya dan memiliki rasa agak pahit.

Meski penyadaran demi penyadaran tentang efek negatif rhodamin B terus didengungkan, namun toh masih banyak konsumen yang abai tentang hal ini. Sekolah-sekolah tetap memperbolehkan anak didiknya untuk mengonsumsi minuman berwarna mencolok yang dijual di muka pintu gerbang sekolah. Ibu-ibu lebih menyukai terasi yang warnanya merah mencolok ketimbang yang alami. Anak-anak kita makan sosis yang berwarna mencolok.


Para penjual pun tenang-tenang saja dan tidak merasa berdosa meracuni konsumen-konsumennya dengan produk-produk yang mengandung rhodamin B.

Pengawasan untuk ini? Entahlah kenapa para pengawas masih bisa tidur nyenyak di saat banyak makanan dan minuman mengandung rhodamin B.

Hmm, kalau ini boleh disebut kekhilafan, berarti ini kekhilafan berjamaah. Astaga!

Nah, kalau nggak ingin ikut jamaahnya, kita nggak usah mengonsumsi makanan-makanan yang nggak sehat. Juga, kita bisa ikut dalam gerakan penyadaran untuk hal ini, sekecil apa pun.

Wednesday, August 10, 2011

Bisphenol A, Bahaya atau Tidak?

Bisphenol A (BPA) naik daun beberapa waktu lalu saat beberapa negara melarang pemakaian bahan ini untuk botol susu. Dr.Ir.Yadi Haryadi,Msc., dari Departemen Teknologi dan Ilmu Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor banyak menjelaskan tentang hal ini:


BPA merupakan bahan kimia dengan rumus kimia C15H16O2 yang banyak digunakan, antara lain untuk pembuatan plastik poli karbonat, resin epoksi pelapis bagian dalam kaleng, dan bagian dalam tutup botol logam, pembuatan plastik vinil klorida (PVC), komponen penambal dan pelapis gigi, bahan anti api, dan karton atau kertas daur ulang.


Untuk kasus botol susu bayi, plastik poli karbonat (bahan olahan BPA) inilah yang kemudian diolah menjadi
botol susu bayi. Kita lihat, botol warna bening dari plastik poli karbonat itu terkenal tahan pecah, tahan panas, dan bisa dibentuk bermacam-macam.

Selain botol susu bayi plastik poli karbonat itu dijadikan bahan untuk membuat cakram padat (compact disc) dan alat-alat kesehatan. Bila dicampur dengan bahan lain, plastik poli karbonat dapat digunakan pula untuk membuat bagian-bagian telepon selular, alat-alat rumah tangga, dan beberapa bagian komponen mobil.

Barang-barang yang mengandung BPA biasanya ditandai dengan angka 7 didalam logo tiga tanda panah melingkar. Bahan yang mengadung BPA tetapi dikategorikan aman untuk alat konsumsi (food grade), biasanya diberi tanda tambahan yaitu gambar gelas dan garpu.


Kita, konsumen akhir selalu dibuat bingung oleh rekomendasi-rekomendasi hasil penelitian. Ada yang bilang BPA aman, ada yang bilang tidak aman.

BPA dianggap sebagai bahan kimia yang menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan manusia, antara lain mengganggu fungsi hormon yang berkaitan dengan sistem reproduksi, menyebabkan kanker, dan gangguan pertumbuhan janin dan bayi. Kontak manusia dengan BPA dapat terjadi melalui beberapa jalan, antara lain melalui makanan, udara, debu dan air. Namun  BPA bisa diuraikan dengan cepat dan efsien menjadi
metabolit yang dibuang keluar tubuh. Artinya BPA tidak akan berakumulasi didalam tubuh. Ambang batas BPA yang dapat ditoleransi tubuh adalag 50 mikrogram/kg berat badan/hari. Artinya, ambang batas toleransi BPA itu sangat tinggi. Menurut European Food Safety Authority (EFSA) dan Environmental Protection Agency (EPA), seseorang baru akan sakit jika mengosumsi sekitar 250 gr bahan pangan yang terkontaminasi BPA.

Studi bahwa BPA berbahaya dilakukan oleh Dr.Patricia Hunt, ahli bioscience dari Amerika Serikat. Studi yang dipublikasikan di Current Biology ini mengatakan BPA menyebabkan perubahan kromosom di telur tikus percobaan. Dr.Hunt mengatakan studi itu hanyalah riset permulaan dan belum ada bukti bahwa penelitian terhadap tikus itu ada relevansinya dengan manusia.

Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Department of Chemistry, Faculty of Science, National University of Singapore, BPA adalah bahan kimia yang bekerja sebagai endokrin pengganggu. Dosis yang kecil sekalipun, menurut penelitian itu akan menyebabkan kelainan. Pada laki-laki, bahaya yang mungkin
terjadi adalah menurunnya produksi sperma, penambahan berat prostas dan kanker testis. Sedangkan pada perempuan, endokrin pengganggu itu dapat menyebabkan infertilitas dan kanker payudara. Janin dan bayi baru lahir juga paling rentan kena bahaya. Bahaya yang mungkin terjadi adalah kacaunya keseimbangan hormon.


Para ahli yang penasaran dengan penelitian Dr.Hunt itu kemudian melakukan studi lanjutan. Menurut Dr.Yadi, studi terbaru itu menghasilkan data yang bertentangan dengan penelitian itu. Demikian hasilnya:
  • BPA tidak menimbulkan perubahan perilaku anak tikus sampai konsumsi 640mg/kg bobot badan/hari.
  • BPA tidak mengganggu fertilitas tikus betina sampai konsumsi 600 mg/kg bobot badan/hari. - BPA tidak menimbulkan gangguan prostas sampai konsumsi 470 mg/bobot badan/hari.
  • BPA tidak menimbulkan kanker prostat sampai konsumsi 600 mg/kg bobot badan/hari.
  • BPA sama sekali tidak mengganggu masa pubertas.

Penelitian terkini juga membuktikan bahwa BPA tidak akan menimbulkan kanker, tidak mengganggu sistem reproduksi dan sistem kelenjar. Namun, sampai sejauh ini peneliti masih melakukan penelitian lanjutan tentang pengaruh BPA terhadap perkembangan otak, perilaku, dan kelenjar prostat pada jkanin, bayi, dan
anak-anak.

Karena penelitian belum final, perdebatan tentang keamanan BPA terus berlangsung. Jadi wajar saja bila masyrakat kebingungan harus mepercayai yang mana. Untuk mengakhiri perdebatan itu, pemerintah di berbagai negara mengambil keputusan tegas. Di Kanada, pemerintah melarang semua produk kemasan yang mengandung BPA, di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang memperbolehkan produk itu tetap dipakai.

Keputusan tentu ada di kita konsumen, apakah mau memanfaatkan bahan yang mengandung bisphenol atau tidak. Kalau saya mending tidak memakai botol bayi yang mengandung BPA.

Daftar Taman Nasional di Indonesia


PDF Cetak Surel

TAMAN NASIONAL adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990). Berikut ini daftar taman nasional di Indonesia yang bersumber dari www.dephut.go.id.
TAMAN NASIONAL DI PULAU SUMATERA
Gunung Leuser
Siberut
Kerinci Seblat

Bukit Tigapuluh

Bukit Duabelas

Berbak
Sembilang

Bukit Barisan Selatan
Way Kambas

Batang Gadis

Tesso Nilo

TAMAN
NASIONAL DI PULAU JAWA
Ujung Kulon
Kepulauan Seribu
Gunung Halimun

Gunung Gede Pangrango
Karimunjawa

Bromo Tengger Semeru
Meru Betiri
Baluran
Alas Purwo

Gunung Merapi

Gunung Merbabu

Gunung Ciremai

TAMAN NASIONAL DI BALI DAN NUSA TENGGARA

Bali Barat

Gunung Rinjani
Komodo
Manupeu Tanah Daru

Laiwangi Wanggameti

Kelimutu

TAMAN NASIONAL DI PULAU KALIMANTAN

Gunung Palung

Danau Sentarum
Betung Kerihun

Bukit Baka-Bukit Raya

Tanjung Puting

Kutai
Kayan Mentarang
Sebangau

TAMAN NASIONAL DI PULAU SULAWESI

Bunaken
Bogani Nani Wartabone

Lore Lindu
Taka Bonerate
Rawa Aopa Watumohai
Wakatobi

Kepulauan Togean

Bantimurung – Bulusaraung
TAMAN NASIONAL DI MALUKU DAN PAPUA
Manusela

Aketajawe - Lolobata

Teluk Cendrawasih

Lorentz
Wasur
Sumber: http://www.dephut.go.id/

Thursday, July 28, 2011

Hemat Energi di Kantor

Kendati wacana hemat energi seringkali didengang-dengungkan di seantero negeri ini, tapi tetap saja di tingkat praktik keseharian, banyak yang mengabaikannya. Entah di rumah ataupun di perkantoran. Kali ini saya ingin bercerita tentang hemat energi di perkantoran.

Saya sebenarnya nggak punya data, berapa persen dari perkantoran di negeri ini yang karyawannya berbudaya ramah lingkungan di kantor. Namun kalau boleh saya katakan, dari pengalaman saya berkunjung ke berbagai kantor, umumnya kesadaran hemat energi belum sampai mendarah daging.
Siang-siang banyak kantor yang menyalakan lampunya. Belum lagi pemakaian AC, komputer yang tidak dimatikan meski tidak dipakai, konsumsi kertas yang berlebihan, dan sebagainya.

Di sebuah institusi besar di Jawa Timur, saya dapati para karyawan tidak merasa menghambur-hamburkan energi. Tak cuma level staf biasa yang sering menyalakan dan meninggalkan laptop di mejanya dalam kondisi hidup berjam-jam. Pemimpinnya, baik pemimpin puncak maupun para manajer dan supervisornya pun berlaku sama.

Padahal saya yakin, mereka tahu bahwa minyak bumi, gas alam, dan batu bara yang dikatakan sebagai bahan bakar fosil diperkirakan akan habis 30 tahun lagi, bahan bakar gas habis dalam kurun waktu 70-80 tahun, dan bahan bakar padat 120 tahun lagi. Bahan bakar fosil adalah sumber daya tak terbarukan karena perlu jutaan tahun untuk terbentuk.Sumber yang ada saat ini lebih cepat habis ketimbang terbentuk yang baru.

Dan, mereka juga tahu, ada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2008, revisi dari Inpres Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi, yang menginstruksikan kepada pimpinan lembaga pemerintahan baik pusat maupun daerah untuk melakukan langkah-langkah dan inovasi penghematan energi dan air di instansi masing-masing. Upaya itu di antaranya terkait penghematan lampu penerangan, pendingin udara, dan peralatan yang menggunakan energi listrik, bahan bakar minyak, atau gas.

Entah, apa institusi-institusi memiliki semacam panduan (SOP) untuk melakukan penghematan energi. Dan kalaupun memiliki SOP, apakah SOP itu diterapkan sungguh-sungguh? Bagaimana dengan kantor Anda? Apakah Anda termasuk staf yang mendukung gerakan hemat energi untuk kantor Anda, atau Anda apatis dengan hal ini?

Ini ada tips-tips hemat listrik di kantor yang saya transfer dari "Booklet Hemat Listrik Di Kantor" oleh PT. Energy Management Indonesia, mudah-mudahan bermanfaat.

A.Lampu dalam ruangan
  • Matikan lampu bila ruangan tidak digunakan.
  • Pergunakan lampu hemat energi (LHE), kurangi penggunaan lampu bohiam/pija r.
  • Instalasikan penerangan dengan Iebih banyak sakiar sehinggamudah untuk mengatur pemakaianlampu sesuai kebutuhan.
  • Buka gorden atau tirai di siang han hingga penerangan alami bisa digunakan.
  • Bersihkan lampu yang berdebu, karena debu bisa mengurangi tingkat pen era ng an.
  • Pergunakan warna muda/cerah untuk dinding dan langit-langit.
  • Atur perabotan dengan baik agar tidak menghalangi cahaya.

B.Lampu luar ruangan
  • Nyalakan lampu taman, apabila han benar-benar mulai gelap. Ada baiknya untuk menggunakan sensor cahaya otomatis.
  • Prioritaskan lampu-lampu pada area luar ruangan yang perlu dinyalakan dan segera matikan kembali bila han menjelang pagi.
  • Instalasikan listrik dengan Iebih banyak sakiar sehingga mudah untuk mengatur pemakaian lampu sesuai kebutuhan.
 Tips menghemat listrik pada penggunaan kulkas
  • Pintu kulkas harus ditutup rapat, buka jika perlu.
  • Atur suhu kulkas sesuai kebutuhan.
  • Jangan memasukkan makanan dan minuman yang masih panas.
  • Tempatkan kulkas jauh dan sumber panas.

 Tips menghemat listrik pada penggunaan AC
  • Matikan AC bila ruangan tidak dipergunakan dalam waktu Iama
  • Nyalakan AC 1 jam sesudah jam kerja dimulai dan matikan AC 1 jam sebelum jam kerja berakhir.
  • Tutup pintu dan jendela jika AC sedang menyala.
  • Atur suhu AC sesuai kebutuhan, sekitar 23-25°C, semakin dingin suhu semakin besar konsumsi listriknya.
  • Pergunakan kaca film pada jendela ruangan.
  • Gunakan timer untuk mengatur pemakaian agar sesuai kebutuhan.
  • Bersihkan AC secara berkala.
Tips menghemat listrik pada penggunaan mesin fotocopy
  • Pergunakan fungsi “energy saver” pada mesin fotocopy jika mesin tidak dig u n a ka n.
  • Langsung matikan mesin (tombol power off atau cabut stop kontak) jika tidak digunakan dalam waktu yang sangat lama, misalkan pada jam istirahat atau jam pulang kantor.
 Tips menghemat listrik pada penggunaan peralatan audio video
  • Atur volume sesuai kebutuhan.
  • Sebaiknya matikan alatjika tidak digunakan, hindari penggunaan “standby mode”.
  • Jika tersedia, pergunakan fungsi timer sebaik-baiknya untuk mengatur pemakaian peralatan.
  • Bila perlu, gunakan stop kontak dengan sakiar on/off, agar lebih mudah mematikan peralatan listrik.
 Tips menghemat listrik pada penggunaan komputer dan printer
  • Matikan layar monitor apabila istirahat.
  • Hindari penggunaan screensaver, karena akan merubah setting layar monitor untuk selalu aktif.
  • Pergunakan resolusi display dan brightness yang rendah.
  • Pergunakan wallpaper dengan warna hitam.
  • Atur “Power Setting” agar monitor dapat menset power “off’ secara otomatis.
  • Matikan komputer (CPU) dan monitor bila tidak digunakan dalam waktu lama.
Tips menghemat listrik pada penggunaan pompa air
  • Gunakan pompa air untuk mengisi penampungan (tandon), bukan untuk mengalirkan air ke dalam kamar mandi.
  • Gunakan pelampung air otomatis sehingga aliran listrik akan terputus dan pompa berhenti bekerja bila bak sudah penuh.
  • Matikan pompa air bila tidak digunakan, terutama di luar jam kerja atau han libur.
  • Batasi penggunaan pompa air untuk utilitas seperti air mancur.
  • Ada baiknya untuk memeriksa instalasi saluran air, terutama untuk menghindari kebocoran air.

Friday, December 03, 2010

Sejarah Kota Gresik Abad Kolonial dalam Arsip Keluarga Kemasan

Oemar Zainuddin

Beberapa waktu lalu, saat singgah di Kampung Kemasan Gresik, 3 km dari alun-alun Gresik, aku mengenal seorang tokoh kampung tersebut yang juga peminat masalah budaya, yakni Oemar Zainuddin. Pak Oemar, begitu aku memanggilnya, seorang lelaki paruh baya yang juga berprofesi sebagai pendidik.

Ia cerita tentang visi dan idealismenya yang antara lain ingin merevitalisasi kejayaan Kampung Kemasan Gresik, kampung yang dicintainya. Kampung Kemasan Gresik memang pernah berjaya pada sekitar abad ke 19-an. Kini sisa-sisa kejayaannya masih tampak lewat bangunan-bangunan megah di kampung ini, yang merupakan campuran antara citarasa kolonial Belanda dan Cina.

"Banyak wisatawan yang ke Gresik datang ke kampung ini, melihat bangunan-bangunan di sini. Baik sejarah maupun bukti-bukti peninggalan Kampung Kemasan ini merupakan aset bagi Gresik, ujarnya.

Sebagai orang yang cinta kampung halaman yang membesarkannya, kini ia terus berupaya mengumpulkan bukti-bukti kesejarahan kampung tersebut. Ia mengumpulkan satu demi satu arsip-arsip kuno keluarganya.Ya, bukankah arsip pun bisa bicara. Bisa cerita tentang sebuah masa. Ternyata arsip tersebut sungguh berharga, tidak hanya untuk Kampung Kemasan Gresik, namun juga  secara luas juga untuk Kota Gresik.  Dari arsip itulah, kita tahu bagaimana perkembangan Kota Gresik di masa kolonial Belanda. Kita juga tahu, ternyata pribumi Gresik sangat tangguh saat itu, dan bisa dijadikan teladan untuk generasi muda kota Gresik saat ini.

sejarah gresik, buku oemar zainuddin
Kini arsip-arsip tersebut dibukukan oleh Oemar Zainuddin lewat buku: Kota Gresik 1896-1916, Sejarah Sosial, Budaya, dan Ekonomi. Buku tersebut diterbitkan penerbit Ruas, Depok, tahun 2010. Oemar Zainuddin menuangkan pokok-pokok pikirannya dalam buku tentang Gresik pergantian abad ke-20 tersebut, bertolak dari arsip-arsip kuno, sepanjang tahun 1896-1916.
Arsip-arsip yang ditampilkan dalam buku tersebut banyak berbicara tentang sebuah keluarga di Gresik, yang sampai kini lazim disebut “Keluarga Kemasan”, dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi, sosial dan budaya Kota Gresik masa itu. 

Arsip tersebut berupa surat-surat niaga, laporan keuangan, foto-foto, dan formulir pajak. Tidak hanya ditulis dalam huruf latin berbahasa Indonesia, namun juga beberapa ditulis dalam bahasa Arab Pegon. Ada pula formulir berhuruf Jawa. Sebagai pelengkap, wawancara dengan sumber terkait juga dilakukan penulis. Tak lupa data-data sekunder dari berbagai buku dan penelitian tentang Gresik juga disertakan. 

Oemar Zainuddin merupakan Generasi keempat dari H. Oemar Akhmad, saudagar yang memiliki usaha sarang burung wallet dan  toko kulit  yang kemudian jadi cikal bakal industri kulit di Gresik. H. Oemar Akhmad memiliki lima putra yang kemudian mewarisi bisnisnya di bidang perkulitan, yakni Asnar, H. Djaelan, H. Achmad Djaenoeddin, H. Moeksin, dan H. Abdul Gaffar. Penulis buku ini yakni Oemar Zainuddin merupakan cucu H. Achmad Djaenoeddin, putra ketiga.

Ketenaran keluarga ini sampai ke luar Gresik bahkan sampai ke Batavia, antara lain bisa dibuktikan dari arsip-arsip surat pos yang datang dari berbagai kota di Indonesia yang rata-rata hanya mencantumkan nama salah satu dari lima bersaudara tersebut tanpa alamat, kecuali pencantuman Kota Grissee, namun selalu sampai. Kejayaan keluarga ini juga masih bisa dilihat kini dari rumah-rumah megah campuran gaya Kolonial dan Cina di Kampung Kemasan Gresik, yang usianya lebih dari satu abad. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan tukang pilihan yang berasal dari, imigran dari Cina yang sangat ahli membuat bangunan. Meski bangunan di Kampung Kemasan Gresik tidak sedikit yang juga megah, namun dominasipilar-pilar  Eropa, warna merah, dan ornamen Cina merupakan ciri khas bangunan milik keluarga ini.    

Semula, H. Oemar Akhmad, ayah lima bersaudara tersebut, sekalipun sukses berdagang kulit, namun ia belum punya pabrik kulit. Karena usia, ia mengundurkan diri dari dunia bisnis tahun 1896. Sebuah pabrik penyamakan kulit, yakni Pabrik Kulit Kemasan dibangun lima bersaudara anak H. Oemar Akhmad selang dua tahunan berkiprah meneruskan usaha sang ayah. Modalnya, selain dari keuntungan toko kulit, juga dari hasil usaha wallet yang juga dirintis H. Oemar Akhmad.

Ditangangi serius, Pabrik Kulit Kamasan sangat maju. Kliennya dari berbagai kota. Tidak hanya kota-kota di Jawa Timur, namun juga berbagai wilayah di berbagai penjuru Indonesia. Ada pula perusahaan asal Jepang yang menjadi klien Pabrik Penyamakan Kulit Kemasan. Yang menarik, Raja Solo juga menjadi klien fanatik perusahaan kulit ini, dalam salah satu arsip foto yang disertakan dalam buku, mengunjungi rumah Haji Djaelan dan berfoto bersama Keluarga Kemasan.    

Kesuksesan lima bersaudara ini di samping menjadi kebanggaan bagi warga Kota Gresik, juga berpengaruh luas pada kondisi ekonomi, sosial, dan budaya Kota Gresik pada umumnya. Di bidang ekonomi, berdirinya pabrik penyamakan kulit yang besar mampu mendorong kewirausahaan masyarakat lokal. Perajin-perajin kulit bermunculan di sekitar Gresik karena pasokan kulit yang telah disamak melimpah. Kerajinan kulit dari Gresik sangat terkenal, di samping karena desainnya memikat, juga karena bahan kulit dari Gresik memiliki kualitas baik. Tidak hanya itu, keluarga ini juga berkontribusi memberikan semacam kredit bagi pengusaha-pengusaha yang menjadi klien-kliennya.


Tidak hanya di bidang ekonomi keluarga ini berkontribusi bagi Gresik. Dalam bidang kebudayaan, keluarga ini berkiprah menggali dan melestarikan seni tradisional dengan mendukung even-even budaya masa itu. Dalam bidang pendidikan keluarga ini mendirikan kursus setingkat sekolah rakyat untuk anak-anak boemiputra secara gratis. Waktu itu, memang, sekolah Belanda (HIS) hanya menerima murid anak-anak orang Belanda, Cina, dan Bangsawan Kaya. Pelajaran yang ditekankan dalam sekolah gratis ini adalah membaca, menulis, berhitung dan membuat jajanan. Setelah menamatkan sekolahnya, diharapkan lulusan bisa mandiri mempraktikkan apa yang diajarkan di sekolah.  

Buku ini, menurutku sangat berharga bagi siapa pun yang menaruh minat pada sejarah Gresik, terutama sejarah kewirausahaan dan dunia usaha di Gresik. Sampai sekarang, Gresik antara lain terkenal pula memiliki banyak pengusaha kecil dan menengah yang tangguh dengan etos wirausaha yang kokoh.  Buku ini juga meruntuhkan anggapan bahwa perdagangan masa itu pastilah dikuasai etnis Cina dan Arab. Di Gresik, Pribumi pun sangat tangguh. *

Thursday, October 21, 2010

Berandai-andai Gresik Jadi Kota Pariwisata, Penuh Turis


Pariwisata memang seringkali mendongkrak kinerja ekonomi suatu wilayah, namun apakah juga berbanding lurus dengan pertumbuhan moral dan spiritual warga di wilayah tersebut?

Lumrah memang, di negara mana pun, khususnya negara miskin, pariwisata dianggap primadona. Sebuah wilayah yang banyak dikunjungi wisatawan, terutama wisatawan asing, akan banyak memperoleh keuntungan finansial bagi warganya.

Bahkan di negara ini, kini banyak wilayah bersolek sebersolek-bersoleknya agar tamu betah tinggal. Banyak buku-buku, majalah dan web wisata berlomba menampilkan keunikan suatu objek dan kawasan. Seringkali aku merasa, banyak yang kebablasan dalam promosi. Saat aku tertarik dan berkunjung, ternyata apa yang senyatanya tidak sesuai dengan promosinya.   

Ini, aku pengen berkisah tentang sebuah wilayah yang menurutku masih “asli” dan tampil apa adanya, tidak dibuat-buat. Warganya ramah, bersahaja, dan terbuka.  

Kami bertiga, aku, Isabel Gonzalez Rojo, dan Made Wirya dipertemukan dalam minat yang sama. Sama-sama menyukai lingkungan hidup, sejarah dan budaya. Isabel yang Warga Negara Spanyol ini pernah melanglang buana di berbagai negara sebelum akhirnya jatuh cinta pada Surabaya yang katanya memberi keramahan batin padanya. Made Wirya, waktu senggang ia pakai untuk berburu barang antik dan membuat film. Aku sendiri suka mendokumentasikan perjalanan dalam bentuk tulisan.

Pernah kami bertiga melewatkan waktu seharian, khusus untuk merasakan “aura” Kota yang berbatasan dengan Surabaya bagian Utara, yakni Gresik, April lalu. Aku dan Isabel bukan warga Gresik. Made yang warga Gresik lebih banyak bertindak sebagai “pemandu” kami.

Selama beberapa jam kami putar-putar: ngobrol bareng warga, mengunjungi Kota Lama Gresik yang penuh bangunan bersejarah. Kami juga mengunjungi kompleks makam yang mulia Sunan Giri. Lantas melihat-lihat industri kecil, juga ngopi di sebuah warung kecil yang kopinya terkenal enak.

Oh ya, kami kunjungi juga Kampung nelayan Lumpur yang tampak sangat berjiwa. Sangat hidup. Semua tubuh lelakinya liat. Perempuannya pun pekerja keras. Hingga seolah tak satu menit pun mereka lewati dengan berpangku tangan. Di Lumpur pula kami juga mengunjungi kediaman Nur Hasyim, pembaca macapat pesisiran, yang bersahaja dan membuat kami nyaman di rumahnya.

Hanya berkeliling sehari saja, namun kami punya pendapat sama. Gresik – yang sebelum ini juga nggak masuk dalam referensi minatku untuk berkunjung – ternyata menyimpan pesona luar biasa. Inilah yang kami cari.  

“I’ll be back here,” janji Isabel sore itu saat meninggalkan kota santri tersebut.

Sejak kunjungan itu, kami bertiga tenggelam dalam kesibukan rutin. Isabel terbang ke Kamboja. Made dengan pekerjaannya. Namun sesekali Made dan warga Gresik yang kukenal saat kunjungan singkat April itu senantiasa menghubungiku bila ada even-even budaya di Gresik. Aku sempat mendatangi Kaul Sindujoyo, Macapatan, kembali sharing dengan Nur Hasyim dan keluarga, juga ngobrol dengan Oemar Zainuddin, penulis buku Kota Gresik 1896-1916, Sejarah Sosial Budaya dan Ekonomi.

Ya, kunjungan April itu memang titik tolak kami – khususnya aku dan Isabel –dalam memandang Gresik. Bahwa kota pelabuhan ini tidak lagi kami anggap sebagai nothing, namun something unique. Sebuah kota kecil yang menginspirasi. Panas terik wilayah ini tak berarti dibandingkan dengan kejernihannya yang bagai air zamzam, pelepas dahaga hati.  

Diskusi Bareng Komunitas

Isabel kembali mengunjungi Surabaya Oktober ini. Ia memenuhi janjinya untuk kembali ke Gresik.

Aku, Isabel, dan Made Wirya kembali bertemu dalam even diskusi informal di rumah Oemar Zainuddin di Kampung Kemasan. Gresik Lovers yang hadir tak hanya dari Gresik. Mereka terdiri dari wakil komunitas, guru, budayawan, pemerintah, wakil dari kawasan Malik Ibrahim, dll. Ada juga partisipan dari kalangan perguruan tinggi di Surabaya, ITS dan Untag. Kami semua sharing perkembangan Gresik.  

Sharing yang cukup mengemuka dalam diskusi informal sepanjang 3 jam itu antara lain:
-         Mungkinkah Gresik ditetapkan Unesco menjadi Warisan Budaya Dunia?
-         Bagaimana meningkatkan kecintaan masyarakat Gresik terhadap budayanya?
-         Action apa yang harus dilakukan untuk memprkenalkan Gresik?

Isabel menjadi semacam guest star. Maklum saja, dia nggak hanya cantik, namun smart. Lebih-lebih lagi, ia pernah menjadi staf Unesco Kamboja. Sangat klop bila menjadi narasumber tepercaya malam itu. Kawan baikku ini cukup jernih mengungkapkan buah-buah pikirannya dalam sharing tersebut. Ia merinci syarat apa saja yang harus dipenuhi demi gelar “Warisan Sejarah Dunia”. Ada istilah man heritage, underwater heritage, tangible heritage, dan intangible heritage. Di mata Isabel, Gresik berkemungkinan besar memenuhi kriteria untuk menjadi warisan sejarah dunia.  

Namun, Isabel mengajak para partisipan diskusi untuk merenung. Apakah gelar Warisan Sejarah Dunia benar-benar diinginkan? Sudah siapkah masyarakat Gresik? “Masalahnya, saya banyak melihat, wilayah-wilayah Warisan Sejarah Dunia mengalami banyak perubahan, baik sosial, kultur, maupun spiritual,” katanya.

“Misalnya di Macau, Cina, sejak ditetapkan menjadi Warisan Sejarah Dunia, saya melihat di mana-mana turis. Perubahan begitu drastis di sana,” kata master humanitarian dari universitas terkemuka di Australia.  

Namun Isabel menyatakan, bila memang menginginkan Gresik didaftarkan sebagai warisan sejarah dunia, biarlah administrasi untuk hal tersebut tetap dipenuhi. Tapi tanpa gelar itu pun semua yang hadir dalam diskusi memiliki tanggung jawab untuk mempertinggi kesadaran warga Gresik agar lebih mencintai kultur baik yang dibangun di Gresik selama berabad-abad.

Sesungguhnya April lalu, kami bertiga di sebuah warung kopi di Gresik sudah mendiskusikan masalah ini. Isabel secara pribadi, lebih suka sebuah wilayah tetap asli. Tanpa disulap-sulap, apalagi demi pariwisata. “Saya nggak tahu, apakah Vitri masih senang ke Gresik bila kota ini dipenuhi turis?” tanyanya padaku sambil menyeruput kopinya di warung di pusat kota Gresik siang itu. *alpha savitri

Friday, October 15, 2010

Apa Itu: Reduce, Reuse, Recycle

Foto: Dok. Pusdakota Ubaya
Banyak cara dilakukan untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan. Di antaranya Reduce, Reuse, dan Recycle. Mungkin kita sudah kenal istilah ini. Namun apakah dalam praktik keseharian kita menjalankannya? Karena, sayang bila kita hanya mengenalnya di tataran pikiran, namun tidak sampai pada perbuatan. Ini sama halnya dengan pegiat lingkungan yang melakukan demo akan kerusakan lingkungan, namun membuang sampah plastik di tempat demo, seolah semua tempat di dunia ini keranjang sampah.
Di sini saya menampilkan foto dokumentasi Pusdakota Ubaya. Bagaimana surat kabar yang sudah tidak dibaca masih bermanfaat untuk kostum pada sebuah pertunjukan tari. Pusdakota Ubaya yang juga memiliki sanggar tari berupaya mempraktikkan perilaku hijau, bahkan sampai pada kostum tarinya. Simpel dan nggak mahal, bukan?  

Sesungguhnya, apa arti Reduce, Reuse, dan Recycle? Ini uraiannya.

Reduce (Mengurangi)
Sebagai manusia kita pasti memiliki sampah, apa pun bentuknya. Kita memiliki kertas, baju, tas, dan berbagai barang yang potensial memperbanyak sampah di bumi. Belilah barang yang penting-penting saja. Jangan mengoleksi secara berlebihan bila barang-barang tersebut nantinya harus berakhir di tempat sampah.

Reuse (Memakai Kembali)
Toko dan department store banyak menawarkan barang-barang baru yang cantik dan menggiurkan hati. Kalau kita semua terbuai dengan bujuk rayu iklan di televisi ataupun surat kabar, bumi ini dalam kurun dekat akan dipenuhi sampah. Bila kita peduli pada nasib anak cucu, mulailah dengan “gaya hidup hijau”. Perpanjang masa pakai barang-barang kita. Jangan segan memakai barang-barang lama yang masih berfungsi. Jangan cemas bila kita dibilang ketinggalan zaman karena suka memperpanjang masa pakai suatu barang.

Recycle (Mendaur Ulang)
Tidak semua barang bisa didaur ulang. Namun bila barang di rumah yang sudah tidak terpakai bisa didaur ulang menjadi barang lain yang bermanfaat, akan sangat berguna bagi alam ini. Contoh: plastik kemasan minyak goreng yang sudah tidak terpakai bisa dimanfaatkan sebagai pot untuk membibit tanaman. Sachet-sachet bungkus mie instan dijahit untuk tas belanja, dsb.

Sunday, April 04, 2010

Multicultural Green Camp, Ranu Klakah dan Laskar Hijau, Sebuah Refleksi


Pergi dan temui masyarakatmu. Hidup dan tinggallah bersama mereka. Cintai dan berkaryalah bersama. Mulailah dari apa yang mereka miliki dan dari apa yang ada. Buat rencana lalu bangunlah rencana itu dari apa yang mereka ketahui. Sampai akhirnya, ketika pekerjaan usai, mereka akan berkata: “KAMILAH YANG TELAH MENGERJAKANNYA” (lao Tze)

**

Matahari masih bersembunyi di balik Gunung Lemongan, Lumajang. Tapi sinar kuningnya telah muncul sebersit. Di Danau (Ranu) Klakah yang ada di bawah gunung itu, air nyaris tanpa gejolak. Rakit-rakit beserta pelayarnya yang menjala tampak seperti noktah di tengah danau.

Di tepian danau, seorang bapak mengumpulkan udang-udang yang terperangkap di plastik-plastik bekas botol air mineral dalam kemasan yang dibelah dan dijajar sedemikian rupa. Anak-anak yang mandi di tepian danau menjerit-jerit riang. Tak lama kemudian matahari muncul. Beberapa bagian danau yang terkena sinarnya berwarna keperakan. Burung-burung aneka rupa terbang di atasku.

**

Aku beruntung bisa hadir dalam Multicultural Green Camp 2010 yang dimotori kawan-kawan dari Forum NGO di Jawa Timur, Pusham Universitas Airlangga, bekerjasama dengan Laskar Hijau, 20-21 Maret 2010. Kemasan acara dan sambutan hangat tuan rumah demikian inspiratif. Namun di atas semua itu, sesungguhnya kami, partisipan juga mendapat pengalaman berharga. Yakni sebuah ironi. Kendati musim hujan tiba, air adalah barang mewah di sekitar danau yang indah dan seakan memiliki danau kecukupan sumberdaya air ini. Bahkan tuan rumah harus bersusah payah mendatangkan air dari lokasi lain untuk acara Multicultural Green Camp 2010 ini.

Aku jadi ingat buku-buku petunjuk wisata, majalah dan brosur wisata yang selalu dipenuhi foto-fotonya menawan dan eksotik. Aku juga ingat lebih dari satu kali melihat foto-foto dan membaca artikel tentang Ranu Klakah di sebuah situs di internet. Foto dan artikel dikemas seolah dengan tidak ada cacat dan cela. Bagai seseorang yang didandani dengan make-up untuk menonjolkan kecantikannya dan menyembunyikan kekurangannya.

Nggak papa sih, namanya saja jualan tempat, pastinya yang ditonjolkan adalah yang bermutu. Tapi kadang aku merasa, ada buku-buku atau informasi wisata, nggombalnya sering kebablasan.

Maka aku selalu skeptis, benarkah info-info yang kuterima mencerminkan hal sesungguhnya? Dan sepanjang pengalamanku, meskipun sebuah tempat sudah diulas banyak oleh media massa dan brosur, aku sering dihadapkan pada area gelap yang harus kutelusuri lebih jauh untuk mendapatkan keutuhan informasi.

Seperti Ranu Klakah dan Gunung Lemongan ini. Tak hanya memiliki sisi baik, yakni pemandangan, sejarah, dan, modal sosial, namun juga itu tadi, yang menurutku mendasar, yakni kelangkaan air yang harus dirunut sumbernya.

*

Reformasi negeri ini tahun 1990-an, di samping membawa berkah juga menyisakan masalah. Salah satunya adalah penebangan liar besar-besaran yang diskenariokan penguasa lama negeri ini yang tak ingin kekuasaannya diambil alih pemimpin baru.

Huru-hara bikinan terjadi di mana-mana. Semua hutan di negeri ini digunduli termasuk hutan Gunung Lemongan seluas 6000 hektar yang habis dalam kurun tahun 1998 – 2002.

Dulu, 30 danau berhasil dihidupi Gunung Lemongan. Kini tinggal sembilan danau yang berair. Dulu, ada 32 mata air di sekitar Ranu Klakah, kini tinggal empat. yang tersisa. Padahal 47 persen warga Ranu Klakah berprofesi sebagai petani. Sawah-sawah yang harus diairi sebanyak 500 ha. Petani mana yang mampu bertahan dalam situasi kelangkaan air? Bayangkan kalau semua petani kita mengalami hal yang sama. Akan seperti apa dunia pertanian di negeri ini. Pastilah semakin terpuruk. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga, tangganya dari baja pula.

Aku jadi ingat sebuah tempat ****o*i*o, kira-kira 30 km jauhnya dari Ranu Klakah. Kegiatan yang paling kusukai bila aku ke tempat ini adalah mandi dan berenang-renang di sumber-sumber air di tempat yang letaknya tersembunyi di dekat kebun-kebun salak penduduk. Di tempat yang tinggi ini sumberdaya air demikian melimpah. Sumber-sumber air dialirkan ke rumah-rumah warga lewat pipa paralon. Saban bulan warga bekerja bakti melihat kebocoran-kebocoran. Saban bulan warga membayar iuran. Air dikelola oleh warga dengan damai. Mudah-mudahan lokasi yang kaya sumber air ini tak diambil pemodal air minum dalam kemasan, sebagaimana di lokasi-lokasi yang kaya sumber air. (makanya dalam tulisan ini, wilayah ini kupassword. He he). Sungguh tidak menyenangkan bila suatu saat aku mendengar warga harus membeli air di wilayahnya sendiri yang kaya air.

****o*i*o dan Ranu Klakah. Dua lokasi di kabupaten yang sama, yakni Lumajang namun memiliki ketimpangan sumberdaya air.

Hebatnya, warga Ranu Klakah bisa berdamai dengan kondisi kelangkaan air. Beberapa pemancing, warga lokal yang kutanya di danau menganggap kelangkaan air sebagai situasi yang memang harus diterima sedangkan beberapa menganggap ini harus dipecahkan.

*

Dua hari di Ranu Klakah sangat menginspirasi karena aku melihat aksi-aksi nyata warga setempat yang dilakukan bersama pegiat lingkungan Laskar Hijau untuk mengembalikan kejayaan Gunung Lemongan.

Laskar hijau bukanlah organisasi yang datang untuk menawarkan program-program dengan cara pandang Laskar Hijau yang berusaha disuntikkan ke warga. Namun Laskar hijau kulihat hidup dan tinggal bersama masyarakat setempat, berkarya bersama mereka, membikin rencana bersama dari apa yang diketahui warga.
Organisasi kerelawanan untuk konservasi ini dibentuk tahun 2008. Keanggotaan bersifat sukarela. Organisasi yang tidak berbadan hukum ini lebih menekankan partisipasi bersama, juga dalam hal pendanaan konservasi. Sudah setahun ini, masyarakat setempat bersama Laskar Hijau telah menghijaukan 300 ha bukit Gunung Lemongan.

”Ini berarti, untuk mengembalikan ekosistem Gunung Lemongan yang 6000 ha, kami perlu waktu 20 tahun. Kami akan terus fokus untuk membantu penghijauan Gunung Lemongan selama 20 tahun,” kata A’ak Abdullah Al Kudus, relawan Laskar Hijau.

Gunung Lemongan disentuh dengan tetap memperhatikan kearifan lokal melalui konsep hutan setaman. Bibit pohon yang dikembangkan adalah buah-buahan lokal, tanaman konservasi, tanaman langka, dan aneka jenis bambu, khususnya bambu petung (Dendrocalamus Asper), Jajang Hitam (Gigantochloa Atroviolacea Wijaya), dan Bambu Andong Besar (Gidantochloa Pseudoarundinacae). Siswa-siswi SD setempat pun diajak bekerjasama untuk membibit untuk membuka kesadaran pentingnya pemeliharaan alam ini.

Kenapa dipilih buah-buahan untuk ditanam di hutan-hutan Gunung Lemongan yang gundul? ”Ini semua untuk masyarakat, agar mereka tak lagi menebangi kayu untuk memenuhi kebutuhan. Mereka cukup memetik buah yang ada di hutan Gunung Lemongan,” kata A’ak.

Darimana bibit tanaman buah berasal? Ternyata dari biji-bijian yang diupayakan warga dan dari biji-bijian yang diambil dari pasar. Warga mengumpulkan biji buah-buahan untuk disumbangkan dalam gerakan penghijauan Biji-biji juga dikumpulkan lewat pengobatan akupuntur gratis. Pasien hanya diminta membayar dengan biji-bijian di sekitar mereka. Jumlahnya terserah. Biji-bijian tersebut dibibit untuk setiap minggu ditanam relawan di bukit-bukit gundul Gunung Lemongan.

Baru setahun melakukan upaya penanaman kawasan lereng Gunung Lamongan, di samping beberapa tanaman sudah berbuah, aneka satwa yang sempat menghilang, terutama burung kini perlahan-lahan kembali. Agar tetap lestari, warga bersama laskar Hijau berharap agar Gunung Lemongan dikukuhkan sebagai kawasan hutan lindung atau taman nasional sesuai undang-undang yang berlaku.

Seruan konservasi dilakukan lewat berbagai cara oleh masyarakat. Antara lain lewat kegiatan rutin Maulid Hijau (Maulid Nabi dan Penghijauan) yang diselenggarakan sejak tahun 2006. Beragam kegiatan lingkungan hidup dan seni budaya maupun bersih desa yang telah turun-temurun, diselenggarakan dalam bulan dilahirkannya Nabi Muhammad SAW. Tahun 2010, Maulid Hijau rencananya diselenggarakan 14-16 Mei 2010.

*

Laskar hijau dan sedikit organisasi kerelawanan lain yang rela memilih jalan sunyi, apalagi yang tegas memilih untuk tidak memiliki badan hukum dan funding (yang seringkali sarat kepentingan) harusnya kita dukung dengan segenap potensi yang kita miliki, karena sungguh berjuang demi hal-hal yang prinsip demi semesta. Bukan demi kepentingan-kepentingan lain.

Kuharap mereka tetap konsisten dengan visi dan misi yang mereka pilih, tetap utuh dengan masyarakatnya bagai sapu lidi, dan semakin matang berefleksi atas roh kekaryaan mereka.

Selamat menebar karya, kawan.

Nyadran Nelayan dan Makam Dewi Sekardadu, Ibunda Sunan Giri


Makam Ibunda Sunan Giri, Dewi Sekardadu, jauh dari keramaian. Di sekelilingnya cuma ada laut dan empang. Mungkin sang dewi ingin mengabarkan pada kita bahwa sahabatnya yang abadi adalah ikan, pasir, bakau dan angin laut.

Desa Kepetingan alias Ketingan, Sidoarjo, Jawa Timur, pada hari-hari biasa begitu sunyi. Cuma ada sedikit rumah dengan sedikit orang. Hampir semua wilayah dihuni tambak, pohon dan satwa pantai.

Jika tak hujan, jajaran bakau yang hadir di tepi pantai tampak sangat indah. Burung-burung langka pun, pagi itu sekali-sekali melintas-lintas sambil berkicau. Serangga tak kalah banyak jenisnya, hinggap dan terbang di antara tanaman-tanaman. Angin lumayan kencang, membawa air laut sampai ke wajahku.

Cuma, yang mengganggu setiap kunjunganku adalah tumbuhan enceng gondok yang mulai jenak berdiam dan berkelompok-kelompok di berbagai sudut tepian pantai. Aku ingat, satu kawanku yang pecinta lingkungan pernah bilang kalau hadirnya enceng gondok bisa merupakan ciri telah hadirnya limbah yang mengganggu kesehatan. Oh, tak lama lagi, bila tak ditangani, kelompok-kelompok enceng gondok tersebut akan bersatu. Tidak itu saja, sebenarnya. Aku juga melihat banyak sampah plastik dari bungkus snack dan air mineral tersangkut di antara sulur-sulur enceng gondok. Siapa pun yang membuang sampah tersebut mungkin menyangka semua tempat di bumi ini adalah tong sampah.

Oh ya, untuk mencapai wilayah ini relatif rumit. Aku dan kawan nunut perahu nelayan. Satu setengah jam dari kampung nelayan di Bluru Kidul, Sidoarjo. Nggak bisa lewat jalur darat. Jalan-jalan setapak di kanan kiri berliku dan licin, lebih-lebih bila musim hujan.

Di desa inilah Ibunda Sunan Giri Dewi Sekardadu konon beristirahat sejak abad ke-14. Makamnya cukup megah karena beberapa tahun lalu dipugar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Ada joglo untuk peristirahatan pengunjung segala. Namun tetap saja, di tengah deru angin kencang yang sesekali membawa air laut, kesan kesunyian dan keterpencilan makam ini kurasakan.

Beberapa penduduk bercerita padaku bahwa kunjungan ke makam ini relatif jarang. “Yang datang biasanya adalah peminat ziarah wali. Atau kalau tidak ya peneliti, atau peminat masalah supranatural,” ujar Haji Waras, pemuka masyarakat.

Angka kunjungan meningkat menjelang upacara nyadran alias petik laut yang diselenggarakan setahun dua kali. Menjelang Ramadan dan Bulan Maulud.

Ternyata beberapa penduduk desa ini yang ngobrol siang itu denganku hapal sejarah makam Dewi Sekardadu, dengan pakem seragam. Bahwa perempuan ini bernasib malang. Dia mencari-cari bayinya di tengah laut namun tidak menemukan. Yang terjadi, dia tewas, lantas digotong ikan-ikan keting (entah apa nama ilmiahnya), untuk didamparkan di tempat ini, yang kini dinamai Desa Ketingan atau Kepetingan.

Putri Blambangan yang Malang

Sekadar mengingatkan, Dewi Sekardadu sesungguhnya adalah putri dari Prabu Menak Sembuyu, Penguasa Kerajaan Blambangan, Banyuwangi pada abad ke-14.

Samadi, juru kunci makam menjelaskan, Blambangan suatu ketika didera wabah penyakit. Dewi Sekardadu sendiri pun sakit. Tabib-tabib terkenal didatangkan namun tak satu pun yang bisa menyembuhkan penyakit, baik Dewi Sekardadu maupun warga desa.

“Raja pun membuat sayembara, barangsiapa bisa menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu, ia berhak menjadi suami sang dewi jelita itu. Namun lagi-lagi tidak ada yang
bisa menyembuhkan. Hingga akhirnya, Prabu Menak Sembuyu bermimpi bahwa yang bisa menyembuhkan putrinya adalah ulama Muslim bernama Syeh Maulana Iskak yang berdiam di sekitar Gresik, Jawa Timur, “beber Samadi.

Maka diutuslah patih kerajaan untuk menemui Syeh Maulana Iskak. Syeh Maulana Iskak pun berangkat ke Tanah Blambangan. “Singkat cerita, Dewi Sekardadu berhasil disembuhkan. Maka, dinikahkanlah Syeh Maulana Iskak dengan Dewi Sekardadu.

Setelah menikah mereka tinggal di Blambangan. Syeh Maulana Iskak sangat disayangi penduduk Blambangan.

Orang-orang kepercayaan raja mengail di air keruh. Mereka juga tidak rela rakyat demikian menyayangi Syeh Maulana Iskak. Intrik demi intrik dilakukan, hingga raja semakin membenci Syeh Maulana Iskak. Bahkan Dewi Sekardadu pun tidak lagi akur dengan suaminya. Syeh Maulana Iskak akhirnya meninggalkan istana untuk berdakwah di tempat lain. Saat itu Dewi Sekardadu hamil tua.

Bayi yang dikandung Dewi Sekardadu lahir tahun 1365 M. Namun bayi tersebut tidak diinginkan para petinggi kerajaan yang haus kekuasaan. Bayi tersebut diculik, ditempatkan di sebuah peti yang kemudian dipaku dan dibuang ke laut. Itu sebabnya bayi tersebut juga dinamai Raden Paku.

Mengetahui anaknya dibuang ke laut, Dewi Sekardadu menceburkan diri, mengejar-ngejar anaknya di laut. Dewi Sekardadu tak bisa mengejar peti yang terapung-apung di laut, lantas meninggal.

Di wilayah Balongdowo Sidoarjo, pada tahun 1365 tersebut, para nelayan sedang mencari ikan dan kerang di laut. Mereka dikejutkan dengan serombongan ikan keting yang ramai-ramai menggotong jasad seorang wanita cantik, yang diyakini Dewi Sekardadu. Jasad yang akhirnya didamparkan ikan-ikan keting di pantai, lantas dikubur secara terhormat oleh warga. Tempat itu akhirnya dinamakan KETINGAN alias KEPETINGAN.

Bagaimana dengan bayi Dewi Sekardadu yang terapung-apung itu? Selamatkah dia? Ternyata bayi tersebut selamat. Seorang penguasaha kapal ikan perempuan mengambil bayi yang kemudian dinamai Raden Paku dan dikenal dengan sebutan Sunan Giri tersebut.

Namun kisah Dewi Sekardadu ini punya banyak versi. Beberapa tempat seperti Gresik dan Lamongan, konon juga diakui sebagai makam Dewi Sekardadu. Entah versi mana yang benar, namun nelayan-nelayan di sini sangat yakin, makam Dewi Sekardadu yang asli ya yang di kampung mereka.


Upacara Nyadran
Makam Ibunda Sunan Giri tersebut, sangat dimuliakan masyarakat nelayan Sidoarjo. Setiap tahun, saat bulan Maulud dan menjelang Ramadhan, upacara terbesar nelayan pesisir Sidoarjo Nyadran atau petik laut dipusatkan di makam ini.

Sekali waktu aku mengikuti Nyadran nelayan Bluru Kidul Sidoarjo, yang terjadi di awal Maret 2010. Sejak pagi para penduduk kampung Bluru Kidul yang sebagian besar kaum nelayan, telah berkumpul di tempat yang biasa mereka pakai sebagai dermaga. Sebagaimana hari raya Idul Fitri, kali ini penduduk pun kulihat berpakaian serba baru. Mereka satu per satu, juga anak-anak naik perahu. Jumlah perahu sekitar 30-an dan beberapa di antaranya berhiaskan hasil bumi seperti sayur dan buah-buahan. Di dalam perahu-perahu itu telah ada tumpeng.

Makam Dewi Sekardadu dipenuhi penduduk yang bergantian untuk nyekar. Puluhan tumpeng dan sesajen dibawa ke dalam masjid. Ayat-ayat Al Quran juga dikumandangkan. Setelah itu, tumpeng pun dibagikan untuk siapa saja yang memerlukan. Beberapa tumpeng memang disediakan untuk dilarung ke laut, dan ini tentu saja dibawa kembali ke dermaga. Penduduk pun kembali naik perahu, beriring-iring menuju tengah laut, tempat melarung tumpeng.

Kebersamaan benar-benar tampak di sini. Even ini ternyata sanggup mempererat tali persaudaraan antarmereka.

Sejak dulu aku senang menjadi saksi upacara-upacara adat, entah itu bersih desa ataupun nyadran. Kegiatan semacam ini memang ada di mana pun di Nusantara kita. Hanya versinya yang beda karena selalu kontekstual dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Kegiatan semacam ini, sepanjang filosofinya diketahui dan pesan-pesan moral terbaiknya diamalkan, bukankah akan membuat dunia kita yang carut marut ini jadi lebih baik? Bukankah Nyadran yang erat kaitannya dengan bersih-bersih ini merupakan kegiatan untuk semakin mendekatkan kita kepada jagat kecil, yakni diri kita, dan jagat besar, yakni semesta ini? Semestinya, kegiatan yang sarat pesan moral dan pastinya ramah lingkungan tersebut tak ada alasan buat ditampik, dicurigai, atau dihujat.

Dalam hati aku juga berharap, makam ini beserta ritual-ritual yang digelar tidak dikomersialisasikan atas nama apa pun, bila itu berpotensi merusak modal sosial, modal spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Tuesday, January 19, 2010

Monsanto's GMO Corn Linked To Organ Failure, Study Reveals

In a study released by the International Journal of Biological Sciences, analyzing the effects of genetically modified foods on mammalian health, researchers found that agricultural giant Monsanto's GM corn is linked to organ damage in rats.

According to the study, which was summarized by Rady Ananda at Food Freedom, "Three varieties of Monsanto's GM corn - Mon 863, insecticide-producing Mon 810, and Roundup® herbicide-absorbing NK 603 - were approved for consumption by US, European and several other national food safety authorities."

Monsanto gathered its own crude statistical data after conducting a 90-day study, even though chronic problems can rarely be found after 90 days, and concluded that the corn was safe for consumption. The stamp of approval may have been premature, however.

In the conclusion of the IJBS study, researchers wrote:

"Effects were mostly concentrated in kidney and liver function, the two major diet detoxification organs, but in detail differed with each GM type. In addition, some effects on heart, adrenal, spleen and blood cells were also frequently noted. As there normally exists sex differences in liver and kidney metabolism, the highly statistically significant disturbances in the function of these organs, seen between male and female rats, cannot be dismissed as biologically insignificant as has been proposed by others. We therefore conclude that our data strongly suggests that these GM maize varieties induce a state of hepatorenal toxicity....These substances have never before been an integral part of the human or animal diet and therefore their health consequences for those who consume them, especially over long time periods are currently unknown."

Monsanto has immediately responded to the study, stating that the research is "based on faulty analytical methods and reasoning and do not call into question the safety findings for these products."

The IJBS study's author Gilles-Eric Séralini responded to the Monsanto statement on the blog, Food Freedom, "Our study contradicts Monsanto conclusions because Monsanto systematically neglects significant health effects in mammals that are different in males and females eating GMOs, or not proportional to the dose. This is a very serious mistake, dramatic for public health. This is the major conclusion revealed by our work, the only careful reanalysis of Monsanto crude statistical data."

Monday, July 27, 2009

Rayap di Pohonku Ada Pemangsanya

Meski rumahku belum kemasukan rayap, namun tiga pohon di halaman rumahku mulai jadi tempat persembunyian rayap. Aku tahu karena di beberapa batang pohon mangga, jambu, dan kelor ditempeli tanah. Di situlah rayap mulai bermukim dan beranak pinak.

Untuk membersihkan rayap-rayap yang menempel di pepohonan, biasanya kami cuma menyapunya, lantas menyiram batang pohon tersebut dengan air sehingga tanah-tanah beserta rayap tersebut longsor ke tanah. Saat longsor ke tanah itulah, sepasang ayam yang kami pelihara, memakan mereka dengan lahap.

Kawan, dulu sewaktu di sekolah dasar, dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, ada pelajaran tentang keseimbangan ekologis. Alam memiliki sekumpulan hubungan antarmanusia yang unik, berkelanjutan, yang menjaga keseimbangan keberadaan tanaman dan semua makhluk hidup. Mereka saling tergantung satu sama lain. Bila semuanya seimbang, lingkungan hidup menjadi tempat yang aman dan sehat. Proses rantai makanan menjaga keseimbangan hubungan mangsa – predator yang mempertahankan spesies dominan dan agresif tidak bertambah.

Dulu, alam dalam kondisi seimbang. Namun, sekarang, seringkali kita dengar petani gagal panen karena padinya tertubi-tubi diserang serangga dan tikus. Resistensi serangga bertambah dengan adanya pertanian non organik. Tidak ada lagi keseimbangan di alam ini.

Masyarakat perkotaan seperti kami pun harus waspada karena kini, misalnya, serangan rayap sungguh lebih bertubi-tubi dalam dekade-dekade terakhir ini. Rayap membuat keropos, tidak saja buku-buku, namun juga kayu-kayu rumah, bahkan yang sudah dilapisi. Seakan rayap pada decade ini sangat resisten dan susah dibasmi. Maka, kini kita lihat, banyak perusahaan yang bergerak di bidang pembasmian rayap panen hasil.

Kawan, seringkali aku merasa harus mendidik diri ini untuk senantiasa menampilkan perilaku organik sekecil apa pun dalam keseharian, Termasuk untuk menangani sampah, rayap, ayam-ayamku.

Kalau ada rayap di pohon-pohonku, sebagaimana yang kuceritakan di awal tulisan ini, tinggal kuserahkan saja pada kedua ayamku. Ya, ayam-ayamku dalam rantai makanan di ala ini adalah predator bagi bangsa rayap. Kulihat ayam-ayamku sangat menikmati pesta kecil ini. (alpha savitri)

Soto Madura Atau Bukan Sih?


Hal yang kusuka saat melakukan perjalanan di daerah yang jarang atau belum pernah kukunjungi adalah mencicipi citarasa masakan lokal. Di bidang kuliner, Madura terkenal dengan sotonya. Maka, saat menginjakkan kaki di Pulau Madura, hal yang terpikir selalu memang mencicipi Soto Madura.

Beberapa tahun lalu, aku pernah mencicipi soto di wilayah Sumenep, Madura. Namun ternyata soto di situ tidak sama dengan soto yang umumnya kita sebut soto Madura. Rasanya asing di lidahku. Di mangkokku tidak hanya ada campuran daging dan kuah, namun juga kacang hijau. Waktu itu sesungguhnya aku penasaran. Benarkah Soto Madura yang asli memang sebagaimana Soto Madura yang aku cicipi tersebut? Itu berarti soto yang ada di luar Madura, dengan citarasa yang sangat berbeda, sesungguhnya bukan Soto Madura?

Beberapa pekan lalu, aku menjajal jembatan Suramadu. Akhirnya kendaraanku sampai di wilayah Burneh yang berjarak hanya beberapa kilometer sebelum Bangkalan. Di bundaran Burneh, kulihat pedagang kaki lima dikerubungi pembeli. Aku penasaran dan saat mendatanginya, ternyata ia menjual soto. “Ayo, Mbak, beli Soto Madura di sini. Dijamin enak,” katanya sembari melihat pelat nomor “W” pada kendaraanku.

Penjual soto tersebut menyebut namanya Hajjah Fatimah. Sudah bertahun-tahun ia berdagang soto di Bundaran Burneh. Aku pun memesan soto dan kopi tubruk, sebagaimana kebanyakan orang yang singgah di kedai kakilimanya yang laris.


Tidak ada kursi dan meja di kedai itu. Yang ada di situ hanya amben dari kayu lebar. Di pinggiran amben itu pembeli duduk.

Kopi dengan gelas sangat kecil terhidang. Disusul nasi soto dalam mangkok yang juga kecil. Kulihat soto itu berisikan daging sapi jeroan, kecambah, kentang goreng. Warna kuahnya tidak kuning pekat sebagaimana biasa kusaksikan, melainkan bening kemerahan. Tapi tidak sebagaimana di Sumenep, yang ini tidak berisi kacang hijau.

Meski lumayan enak, tapi aku sulit menggolongkannya ke dalam soto. Yang kutahu, soto pasti berbumbu kunyit. Sedangkan soto yang kumakan ini tidak terasa sama sekali kunyitnya.

“Tidak pakai kunyit. Ini baru soto asli. Yang pakai kunyit itu nggak asli,” terang Hajjah satu ini.

Bumbu Soto Madura ala Burneh dan Bangkalan, katanya adalah bawang putih, bawang merah, terasi, lengkuas, merica, ditumbuk lantas ditumis. Setelah itu daging dimasukkan, demikian pula air. Ditunggu sampai mendidih. Tidak pakai kunyit maupun sereh seperti umumnya soto Madura yang dijual di Jawa. Kalau mau dihidangkan tinggal ditambahi cabe iris, kentang goreng, dan kecambah.

Soto Madura memang terkenal di mana-mana, sebagaimana Soto Lamongan. Namun herannya, soto ini rasanya di masing-masing daerah tidak serupa. Di wilayah Surabaya dan sekitarnya, Soto Madura tampil dengan kuah kuning pekat namun tanpa santan. Kalaupun ada pedagang yang memberi santan, itu diberikan dengan jumlah tidak banyak. Tapi cobalah berkunjung ke Blitar dan sekitarnya. Soto Madura yang ditampilkan santannya begitu terasa. Bahkan bila kita berkunjung ke depot yang menjual soto dengan tidak mencantumkan label madura, rasanya sama saja. Di wilayah Yogyakarta, Soto Madura tampil dengan rasa lebih manis.

Soto Madura memang mengalami modifikasi, baik tampilan maupun rasa, sesuai daerah tempat penjual menggelar dagangannya. Bahkan di Madura sendiri pun antara wilayah satu dengan yang lain, rasa dan bahan sotonya berlainan sebagaimana yang kualami.

Maka, tidaklah aneh bila di Surabaya yang jaraknya relatif tidak jauh dari Madura, modifikasi soto Madura juga luar biasa. Orang Surabaya, saat mencicipi soto di Bangkalan susah menyebut apakah yang dia makan benar-benar soto seperti kata penjualnya. Sebaliknya, orang Madura “Menuduh” yang dijual di Surabaya dan berbagai wilayah lain itu bukan soto asli. Dengan kata lain, nama besar Soto Madura itulah yang dimanfaatkan. Pada akhirnya pasti akan sangat sulit buat kita mencari rasa asli dari Soto Madura.

Mungkin itu kelebihan dari Soto Madura. Beragam rasa dari wilayah ke wilayah. Ia mampu beradaptasi dengan situasi setempat. Jadi sampai kapan pun tetap bisa eksis. (Alpha Savitri)

Wednesday, November 12, 2008

Kuntul di Beringin Alun-alun Kota Blitar

Kota Blitar yang sering kukunjungi masih menyisakan banyak situs hijau yang tidak dimiliki kota-kota lain di Jawa, seperti Surabaya dan Jakarta. Di antara situs hijau di kota ini yang kusukai di Kota ini adalah pohon-pohon beringin masih dibiarkan tumbuh, berkembang, dan menjadi dewasa, di jalan-jalan utama di kota ini. Pohon-pohon itu penuh akar-akar yang di mataku sangat eksotik. Lokasi pohon beringin yang kusukai adalah di Alun-alun Kota Blitar. Di lingkungan ini, tidak cuma ada satu beringin, namun lebih dari sepuluh. Empat di antaranya berdiam di pinggir jalan utama, tidak di dalam pagar alun-alun.

Aku benar-benar merasa homey bila melintasi pohon-pohon beringin di alun-alun. Menurutku, seharusnya, begitulah sebuah kota dikelola. Tetap memperhitungkan keberadaan pohon-pohon. Tidak mengalahkannya demi kepentingan manusia yang seringkali tidak berpikir secara berkelanjutan.

Pohon-pohon beringin di alun-alun merupakan rumah yang nyaman bagi para burung. Yang sangat banyak berteduh di sini adalah para serangga. Banyak pula burung yang kata orang Jawa adalah kuntul (burung bangau). Kuntul-kuntul ini, dengan jumlah, mungkin ribuan, menjelang maghrib pulang berbondong-bondong. Yang terbanyak dari arah barat. Sungguh pemandangan yang elok. Saking banyaknya burung-burung yang bermukim di pohon beringin dekat alun-alun, hidung kita akan merespon bau alami burung dan kotorannya. Aku tidak terganggu dengan bau burung dan kotorannya. Di Surabaya, aku justru jarang mencium karunia Allah berupa bau burung. Yang kucium di jalanan di kota pahlawan adalah sisa asap kendaraan yang sangat menyesakkan.

Maka, bila aku melintasi pohon-pohon beringin dan mencium bau khas burung dan kotorannya, seringkali aku disekap perasaan takjub. Oh ya, bila kita melongok ke atas, ke arah daun-daun beringin, sebagian daun itu tampak berwarna pucat. Tidak hijau. Ya, daun yang pucat tersebut pastinya pernah atau sering menjadi tempat kotoran burung-burung. Kotoran-kotoran itu bahkan tidak saja hinggap di daun yang lebat, ranting, atau batang dan sulur-sulur beringin, namun juga sampai ke jalan-jalan. Untungnya, jalan-jalan yang terkena tai burung tersebut selalu lekas dibersihkan oleh petugas sehingga tidak sampai terkesan jorok.

Pohon-pohon beringin itu, entah berapa kini usianya, kuharap tetap berdiam di situ, tidak ditebangi atas nama pembangunan. Kuharap beringin-beringin itu tetap jadi tempat yang nyaman bagi para burung. Para burung tidak risau karena tempat tinggal mereka hilang ataupun mereka terancam bedil-bedil perusak lingkungan.

Sungguh, sekali lagi aku katakan, aku nyaman berada di Kota Blitar, salah satunya karena beringin-beringinnya yang melindungi hewan-hewan yang kini semakin langka, seperti burung kuntul. Di seputaran Surabaya, burung kuntul ditembaki. Malahan, pernah ada restoran burung kuntul yang kini, entah kenapa telah tutup.

Apa Kota Blitar masih senyaman sekarang bila nantinya pohon-pohon besarnya telah tiada (Alpha Savitri)*

Kelelawar Buah Pesaingku

Ini masih cerita tentang pohon buahku. Demi memetik buah mangga gadung di halaman rumah, aku sering kalah bersaing dengan kelelawar. Bukan main senangnya mereka dengan mangga dan bukan main pintar mereka. Buah yang telah besar dan matang yang telah kuincar, pada pagi hari seringkali tergolek di tanah. Kelelawar-kelelawar tersebut tidak menghabiskan semua daging buah, melainkan mencicipi sedikit saja dan buah tersebut dibiarkan saja mubazir di tanah. Aku memang jarang membungkus buah-buahan tersebut saat di pohon sehingga kelelawar bisa mencicipinya dengan bebas.

Dulu, buah-buahan bekas kelelawar pasti kubuang. Namun sejak suamiku membawa berita bahwa buah-buahan bekas tersebut adalah buah pilihan, aku tidak membuang mangga itu. Yang kubuang paling daging bekas gigitan kelelawar. Selebihnya kumakan dan memang manis sekali. Menurutku pada akhirnya, nggak ada salahnya aku berbagi makanan dengan kelelawar.

Kelelawar-kelelawar memang selalu beraksi malam-malam. Aku sama sekali belum pernah tahu rupa kelelawar di rumahku. Satu-satunya yang aku mengerti adalah, buah-buahan yang ranum tergeletak di tanah pagi hari. Tidak ada satu pun dari binatang-binatang itu yang sudi berumah di salah satu ranting pohonku.

Aku ingat, di rumah belajar kearifan lingkungan, Wana Patria Blitar, tidak jarang, aku mendapati kelelawar sedang tidur nyenyak di ranting pohon.

Oh ya, kelelawar sering terlupakan sisi baiknya bagi manusia. Hampir setiap malam binatang ini mencari buah-buahan untuk makanannya lantas menyebarkan biji-biji buah tersebut ke berbagai wilayah yang jaraknya bisa berkilo-kilo meter. Ya, kelelawar adalah penyerbuk yang baik dari berbagai tanaman.

Tidak hanya itu manfaat kelelawar. Kotoran kelelawar pun merupakan pupuk yang sangat baik. Menurut literatur, kelelawar yang hidup di gua-gua, misalnya, kotorannya sangat bermanfaat untuk pupuk yang ramah lingkungan. Pupuk kelelawar disebut pula pupuk guano mengandung nitrogen, fosfor dan potassium sangat bagus untuk tanaman. (Alpha Savitri)