Pak Tulus Wuliata adalah salah satu di antara para mitra Pusdakota yang intens berkontak via email sejak dua tahun lalu. Ia mantan presiden Rotary Club Bali. Ia juga pemilik sekolah musik kenamaan di Denpasar. Kenal nama Pusdakota dari kawan-kawannya sesama rotarian.
Semula ia bertanya-tanya soal pelatihan teknososial pengelolaan sampah rumah tangga yang difasilitasi Pusdakota. Lantas hubungan pun semakin intens saat ia membeli Keranjang Takakura. Ia senantiasa meng-update perkembangannya pada aku yang memang bertugas membalas surat-surat dari para mitra Pusdakota. Aku senang, di tengah kesibukan-kesibukannya ia melakukan pengomposan bersama istrinya. “Ms Vitri, biarpun manula, saya masih ingin berkontribusi pada kehidupan,” begitu dalam salah satu emailnya.
Email-email pun akhirnya tidak hanya membahas seputar keranjang takakura, namun juga soal-soal metode pengomposan yang lain, soal community development, charity yang biasa dilakukannya. Aku mengiriminya publikasi-publikasi kantorku. Ia bilang senang dikirimi media-media demikian dan ia mengaku memajangnya di sekolah musik yang dimilikinya.
Sekali waktu ia pernah mengeluh padaku, agak ribet melakukan pengomposan. Aku pun menyemangatinya. “Pak Tulus, ini bukan masalah ribet atau tidak ribet. Tapi saya dan kawan-kawan di Pusdakota meyakini, berjuta-juta mikroorganisme yang ada dalam Keranjang Takakura adalah makhluk Tuhan yang perlu makanan dari sampah-sampah kita. Mereka adalah mikroorganisme baik yang membantu manusia untuk mengurai sampah menjadi kompos,” itu antara lain bunyi balasan emailku.
Aku juga melayangkan tips-tips bagaimana membuat praktik mengompos menjadi pekerjaan yang ringan.
Esoknya, di email ia mengaku mulai tahu kenapa ia harus mengomposkan sampah-sampah dapurnya. Ia mengaku beruntung karena istrinya pun mendukungnya.
Pernah ia mengirimiku daftar makanan yang harus dihindari dan yang direkomendasikan untuk golongan darah O (Golongan darahku). Katanya, ia dan istri sudah menjajal dan badannya terbukti fit. Duh, dalam daftar kiriman itu ada mie, seafood dan makanan-makanan kegemaranku. “Mana mungkin saya bisa mencobanya, Pak,” protesku. Tapi ia menyemangatiku untuk mencoba.
Pernah, ia lama tidak ber-email. Sekitar tiga atau empat bulanan. Aku melakukan kontak padanya. Menanyakan kabar aksi pengelolaan lingkungan yang dilakukannya. Esoknya ia membalas begini,” saya begitu terkesan dengan cara Pusdakota memelihara relasi. Lantas ia cerita tentang relasinya di Australia yang mengompos dengan cara vermikomposting. Ia bertanya tentang vermikomposting dan teknis pelaksanaannya.
Aku membalas dan bilang padanya bahwa tali silaturrahmi harus ditegakkan selalu. Juga, jaringan dan gerakan penyelamatan lingkungan harusnya dibangun dari orang-orang yang peduli menekuni penyelamatan lingkungan lewat perbuatan-perbuatan kesehariannya. Karena, banyak sekali orang mengklaim dirinya sebagai sahabat dari lingkungan, tapi tidak bersikap dan berpraktik ramah lingkungan.
Lantas, suatu kali Pak Tulus bilang, ingin mengundangku ke lokasi di mana ia aktif melakukan kegiatan community development di sebuah kampung miskin di sekitar Bedugul. Aku berterima kasih pada undangannya dan kubilang, kelak aku mengagendakan diri untuk ke sana kalau semua pekerjaanku benar-benar kelar. Sudah lama aku nggak ke Bali dan kangen nasi jenggo. (Pak Tulus bilang nasi jenggo nggak bagus buat kesehatannya karena ada mienya. Menurut diet golongan darah, ia harus menghindari mie).
Itu suratnya yang terakhir. Lama sekali ia tak berkabar lagi. Tapi aku merasa biasa-biasa saja. Siapa tahu ia sedang sibuk, tak ingin diganggu, atau apa pun. Aku pun meng-email dia sebagaimana yang pernah kulakukan.
Tapi kemarin, pas aku browsing internet, entah kenapa kepikiran terus pada Pak Tulus. Seolah ada yang menggerakkanku untuk mengetahui kabarnya. Lantas, aku mengetikkan ”Tulus Wuliata”, Bali pada search engine google. Wow, aku melihat kiprah-kiprah Pak Tulus yang sangat banyak untuk kemajuan Bali. Sekali lagi aku kagum. Begitu banyak yang tidak kutahu darinya karena dia tidak pernah menyebut kiprah-kiprahnya yang teramat besar. Benar-benar rendah hati si bapak.
Sampai tibalah aku ngeklik situs salah satu surat kabar di Bali. Surat kabar itu lead-nya berbunyi: ”Bertepatan dengan peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2008, tutup usia seorang tokoh masyarakat yang kiprahnya tak bisa dipisahkan dengan proses pembauran bangsa di Bali. Dia adalah Drs. Josephus Damianus Tulus Wuliata, Apt (71).”
Aku langsung lemas dan merasa tak berdaya. Mataku berkaca-kaca. Aku memang tak mengenalnya secara langsung. Tapi dari email-emailnya, aku kenal kegigihannya. Aku kenal sikap rendah hatinya. Ini cukup membuatku terinspirasi dan tidak melupakannya.
Browsing-browsing lagi, aku melihat foto kematiannya. Ia menghuni peti. Wajahnya segar. Ya Tuhan, aku baru tahu wajahnya di saat ia tutup usia. Mataku basah. Aku nggak tahu, apa yang menyebabkan dia tutup usia. Sakitkah atau apa? Dalam hati kuberucap selamat menempuh kehidupan tahap selanjutnya. Kuharap konsistensinya pada nilai-nilai adikodrati yang pernah ia jalani pada kehidupannya terus mengharumi semesta ini. (Alpha Savitri)
Monday, September 29, 2008
Thursday, September 25, 2008
Bu Lily yang Tekun Belajar Kompos
Bu Lily tinggal di Malang. Sering sharing denganku soal-soal yang berhubungan dengan kompos via email. Semula aku nggak tahu, seperti apa dia. Remaja, paruh baya, atau sepuh. Yang aku tahu hanyalah, dia memiliki semangat tinggi untuk mengelola lingkungan hidup lewat rumah tangganya.
Namun hari di mana aku tahu seperti apa Bu Lily secara fisik tiba juga. Dia datang ke kantor. Napasnya agak tersengal. Keringat pun bercucuran. Katanya habis naik kendaraan umum. Kantorku di seputar kampung padat penduduk Rungkut Surabaya. Relatif susah dijangkau orang yang baru pertama kali datang.
“Oh, ini toh yang namanya Bu Lily. Sudah sepuh,” seruku dalam hati. Lantas kami pun mulai sharing apa pun tentang lingkungan hidup.
Bu Lily datang ke kantor sendirian, hanya untuk belajar. Tidak yang lain-lain. Hampir lima jam dia manfaatkan waktunya di Pusdakota untuk bertanya dan bertanya, lantas mencatat. Ia pulang menjelang maghrib, langsung ke Malang. Harus naik kendaraan umum beberapa kali untuk sampai di rumahnya.
Kini aku sering menerima email darinya. Ia sharing kepadaku tentang pembuatan pupuk cair dari bonggol pisang. Ia utarakan keinginannya pula untuk menanam padi dalam polibag. Ia selalu sharing tentang pengomposan yang dilakukannya.
SMS-nya yang terakhir datang tadi pagi. Dia mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Ia kabarkan pula, bakteri padatnya sudah jadi, tinggal dipakai. Pupuk cair dari dari tempe juga berhasil baik.
Ibu Lily, sungguh aku banyak belajar darinya. Fisiknya memang tampak lemah dan cepat capek. Tapi dalam dirinya tersimpan energi dahsyat untuk terus mengembangkan diri. Ya, menjadi tua itu pasti. Tapi menjadi bijaksana adalah pilihan. (Alpha Savitri)
Namun hari di mana aku tahu seperti apa Bu Lily secara fisik tiba juga. Dia datang ke kantor. Napasnya agak tersengal. Keringat pun bercucuran. Katanya habis naik kendaraan umum. Kantorku di seputar kampung padat penduduk Rungkut Surabaya. Relatif susah dijangkau orang yang baru pertama kali datang.
“Oh, ini toh yang namanya Bu Lily. Sudah sepuh,” seruku dalam hati. Lantas kami pun mulai sharing apa pun tentang lingkungan hidup.
Bu Lily datang ke kantor sendirian, hanya untuk belajar. Tidak yang lain-lain. Hampir lima jam dia manfaatkan waktunya di Pusdakota untuk bertanya dan bertanya, lantas mencatat. Ia pulang menjelang maghrib, langsung ke Malang. Harus naik kendaraan umum beberapa kali untuk sampai di rumahnya.
Kini aku sering menerima email darinya. Ia sharing kepadaku tentang pembuatan pupuk cair dari bonggol pisang. Ia utarakan keinginannya pula untuk menanam padi dalam polibag. Ia selalu sharing tentang pengomposan yang dilakukannya.
SMS-nya yang terakhir datang tadi pagi. Dia mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Ia kabarkan pula, bakteri padatnya sudah jadi, tinggal dipakai. Pupuk cair dari dari tempe juga berhasil baik.
Ibu Lily, sungguh aku banyak belajar darinya. Fisiknya memang tampak lemah dan cepat capek. Tapi dalam dirinya tersimpan energi dahsyat untuk terus mengembangkan diri. Ya, menjadi tua itu pasti. Tapi menjadi bijaksana adalah pilihan. (Alpha Savitri)
Hikmah dari Partisipan Pelatihan Pengelolaan Sampah
Bapak Aziz sudah lumayan sepuh. Usianya 70 tahun. Tapi kulihat semangatnya untuk mengikuti pelatihan teknososial pengelolaan sampah di Pusdakota sangat tinggi. Dalam permainan-permainan untuk mendukung pemahaman bahwa sampah harus diolah, misalnya, ia sangat bersemangat. Dalam praktik-praktik pengelolaan sampah, dengan napasnya yang tersengal-sengal, ia berupaya melesat, sebagaimana partisipan muda usia. Pengambilan sampah di kampung pun ia lakoni dengan kesungguhan. Para fasilitator dari Pusdakota jadi semakin bersemangat karena semangat Pak Aziz mampu menular ke sekelilingnya. Pelatihan pun semakin heboh.
Saat ia istirahat siang, aku dan dia punya kesempatan sharing. Aku membagikan padanya pengalamanku membuat pupuk cair dan mengurus kebun rumahku. Dia takjub saat kutunjukkan berbotol-botol pupuk cair yang kubikin di halaman belakang kantor. Kutunjukkan pula bakteri cair bikinanku untuk menggelontor tempat cuci piring dan WC. Kutunjukkan fungsi-fungsinya antara lain agar septictank kita tidak lekas penuh. Kutunjukkan cara-cara pembuatannya yang gampang. Kubilang bahwa kita nggak perlu beli di toko untuk kepentingan yang begituan. Tuhan telah menyediakan semuanya di alam ini. Kita tinggal mempelajari dan mempraktikkan.
Ia catat tips-tips dariku. Pelan-pelan dan teliti. Aku menangkap spirit pembelajarannya yang demikian besar.
Pak Aziz bilang, ia sekarang mengurusi rumah retret satu hektar. ”Biar cuma satu hektar, saya ingin produktivitas lahannya tinggi. Untuk tanaman organik dan kompos,” katanya.
Ia bilang pernah mengelola lahan seluas 20 hektar miliknya para jendral Jakarta di Cisarua. Bisnis tanaman organik itu berjalan baik. ”Tapi waktu itu saya memage. Perintah-perintah saja dan tidak turun ke bawah. Bahkan bertahun-tahun di situ saya nggak tuntas jalan-jalan ke lahan,” katanya tertawa.
Kini setelah sepuh ia ”pulang kampung” ke Batu, Malang. Ia mengelola lahan yang ”hanya” satu hektar. Namun, justru, ia ingin sungguh-sungguh menekuni. Dengan tenaga yang masih tersisa. Untuk itu ia merasa harus sungguh-sungguh belajar. ”Belum terlambat, kan,” katanya.
Aku terharu kesungguhannya. Ada rasa malu. Benar-benar mengingatkanku untuk senantiasa terjaga untuk tetap berkarya dan memanfaatkan waktu-waktu yang dipersembahkan Tuhan padaku, dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Dan usia, bukan hambatan untuk berkarya. (Alpha Savitri)
Saat ia istirahat siang, aku dan dia punya kesempatan sharing. Aku membagikan padanya pengalamanku membuat pupuk cair dan mengurus kebun rumahku. Dia takjub saat kutunjukkan berbotol-botol pupuk cair yang kubikin di halaman belakang kantor. Kutunjukkan pula bakteri cair bikinanku untuk menggelontor tempat cuci piring dan WC. Kutunjukkan fungsi-fungsinya antara lain agar septictank kita tidak lekas penuh. Kutunjukkan cara-cara pembuatannya yang gampang. Kubilang bahwa kita nggak perlu beli di toko untuk kepentingan yang begituan. Tuhan telah menyediakan semuanya di alam ini. Kita tinggal mempelajari dan mempraktikkan.
Ia catat tips-tips dariku. Pelan-pelan dan teliti. Aku menangkap spirit pembelajarannya yang demikian besar.
Pak Aziz bilang, ia sekarang mengurusi rumah retret satu hektar. ”Biar cuma satu hektar, saya ingin produktivitas lahannya tinggi. Untuk tanaman organik dan kompos,” katanya.
Ia bilang pernah mengelola lahan seluas 20 hektar miliknya para jendral Jakarta di Cisarua. Bisnis tanaman organik itu berjalan baik. ”Tapi waktu itu saya memage. Perintah-perintah saja dan tidak turun ke bawah. Bahkan bertahun-tahun di situ saya nggak tuntas jalan-jalan ke lahan,” katanya tertawa.
Kini setelah sepuh ia ”pulang kampung” ke Batu, Malang. Ia mengelola lahan yang ”hanya” satu hektar. Namun, justru, ia ingin sungguh-sungguh menekuni. Dengan tenaga yang masih tersisa. Untuk itu ia merasa harus sungguh-sungguh belajar. ”Belum terlambat, kan,” katanya.
Aku terharu kesungguhannya. Ada rasa malu. Benar-benar mengingatkanku untuk senantiasa terjaga untuk tetap berkarya dan memanfaatkan waktu-waktu yang dipersembahkan Tuhan padaku, dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Dan usia, bukan hambatan untuk berkarya. (Alpha Savitri)
Subscribe to:
Posts (Atom)