Friday, December 03, 2010

Sejarah Kota Gresik Abad Kolonial dalam Arsip Keluarga Kemasan

Oemar Zainuddin

Beberapa waktu lalu, saat singgah di Kampung Kemasan Gresik, 3 km dari alun-alun Gresik, aku mengenal seorang tokoh kampung tersebut yang juga peminat masalah budaya, yakni Oemar Zainuddin. Pak Oemar, begitu aku memanggilnya, seorang lelaki paruh baya yang juga berprofesi sebagai pendidik.

Ia cerita tentang visi dan idealismenya yang antara lain ingin merevitalisasi kejayaan Kampung Kemasan Gresik, kampung yang dicintainya. Kampung Kemasan Gresik memang pernah berjaya pada sekitar abad ke 19-an. Kini sisa-sisa kejayaannya masih tampak lewat bangunan-bangunan megah di kampung ini, yang merupakan campuran antara citarasa kolonial Belanda dan Cina.

"Banyak wisatawan yang ke Gresik datang ke kampung ini, melihat bangunan-bangunan di sini. Baik sejarah maupun bukti-bukti peninggalan Kampung Kemasan ini merupakan aset bagi Gresik, ujarnya.

Sebagai orang yang cinta kampung halaman yang membesarkannya, kini ia terus berupaya mengumpulkan bukti-bukti kesejarahan kampung tersebut. Ia mengumpulkan satu demi satu arsip-arsip kuno keluarganya.Ya, bukankah arsip pun bisa bicara. Bisa cerita tentang sebuah masa. Ternyata arsip tersebut sungguh berharga, tidak hanya untuk Kampung Kemasan Gresik, namun juga  secara luas juga untuk Kota Gresik.  Dari arsip itulah, kita tahu bagaimana perkembangan Kota Gresik di masa kolonial Belanda. Kita juga tahu, ternyata pribumi Gresik sangat tangguh saat itu, dan bisa dijadikan teladan untuk generasi muda kota Gresik saat ini.

sejarah gresik, buku oemar zainuddin
Kini arsip-arsip tersebut dibukukan oleh Oemar Zainuddin lewat buku: Kota Gresik 1896-1916, Sejarah Sosial, Budaya, dan Ekonomi. Buku tersebut diterbitkan penerbit Ruas, Depok, tahun 2010. Oemar Zainuddin menuangkan pokok-pokok pikirannya dalam buku tentang Gresik pergantian abad ke-20 tersebut, bertolak dari arsip-arsip kuno, sepanjang tahun 1896-1916.
Arsip-arsip yang ditampilkan dalam buku tersebut banyak berbicara tentang sebuah keluarga di Gresik, yang sampai kini lazim disebut “Keluarga Kemasan”, dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi, sosial dan budaya Kota Gresik masa itu. 

Arsip tersebut berupa surat-surat niaga, laporan keuangan, foto-foto, dan formulir pajak. Tidak hanya ditulis dalam huruf latin berbahasa Indonesia, namun juga beberapa ditulis dalam bahasa Arab Pegon. Ada pula formulir berhuruf Jawa. Sebagai pelengkap, wawancara dengan sumber terkait juga dilakukan penulis. Tak lupa data-data sekunder dari berbagai buku dan penelitian tentang Gresik juga disertakan. 

Oemar Zainuddin merupakan Generasi keempat dari H. Oemar Akhmad, saudagar yang memiliki usaha sarang burung wallet dan  toko kulit  yang kemudian jadi cikal bakal industri kulit di Gresik. H. Oemar Akhmad memiliki lima putra yang kemudian mewarisi bisnisnya di bidang perkulitan, yakni Asnar, H. Djaelan, H. Achmad Djaenoeddin, H. Moeksin, dan H. Abdul Gaffar. Penulis buku ini yakni Oemar Zainuddin merupakan cucu H. Achmad Djaenoeddin, putra ketiga.

Ketenaran keluarga ini sampai ke luar Gresik bahkan sampai ke Batavia, antara lain bisa dibuktikan dari arsip-arsip surat pos yang datang dari berbagai kota di Indonesia yang rata-rata hanya mencantumkan nama salah satu dari lima bersaudara tersebut tanpa alamat, kecuali pencantuman Kota Grissee, namun selalu sampai. Kejayaan keluarga ini juga masih bisa dilihat kini dari rumah-rumah megah campuran gaya Kolonial dan Cina di Kampung Kemasan Gresik, yang usianya lebih dari satu abad. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan tukang pilihan yang berasal dari, imigran dari Cina yang sangat ahli membuat bangunan. Meski bangunan di Kampung Kemasan Gresik tidak sedikit yang juga megah, namun dominasipilar-pilar  Eropa, warna merah, dan ornamen Cina merupakan ciri khas bangunan milik keluarga ini.    

Semula, H. Oemar Akhmad, ayah lima bersaudara tersebut, sekalipun sukses berdagang kulit, namun ia belum punya pabrik kulit. Karena usia, ia mengundurkan diri dari dunia bisnis tahun 1896. Sebuah pabrik penyamakan kulit, yakni Pabrik Kulit Kemasan dibangun lima bersaudara anak H. Oemar Akhmad selang dua tahunan berkiprah meneruskan usaha sang ayah. Modalnya, selain dari keuntungan toko kulit, juga dari hasil usaha wallet yang juga dirintis H. Oemar Akhmad.

Ditangangi serius, Pabrik Kulit Kamasan sangat maju. Kliennya dari berbagai kota. Tidak hanya kota-kota di Jawa Timur, namun juga berbagai wilayah di berbagai penjuru Indonesia. Ada pula perusahaan asal Jepang yang menjadi klien Pabrik Penyamakan Kulit Kemasan. Yang menarik, Raja Solo juga menjadi klien fanatik perusahaan kulit ini, dalam salah satu arsip foto yang disertakan dalam buku, mengunjungi rumah Haji Djaelan dan berfoto bersama Keluarga Kemasan.    

Kesuksesan lima bersaudara ini di samping menjadi kebanggaan bagi warga Kota Gresik, juga berpengaruh luas pada kondisi ekonomi, sosial, dan budaya Kota Gresik pada umumnya. Di bidang ekonomi, berdirinya pabrik penyamakan kulit yang besar mampu mendorong kewirausahaan masyarakat lokal. Perajin-perajin kulit bermunculan di sekitar Gresik karena pasokan kulit yang telah disamak melimpah. Kerajinan kulit dari Gresik sangat terkenal, di samping karena desainnya memikat, juga karena bahan kulit dari Gresik memiliki kualitas baik. Tidak hanya itu, keluarga ini juga berkontribusi memberikan semacam kredit bagi pengusaha-pengusaha yang menjadi klien-kliennya.


Tidak hanya di bidang ekonomi keluarga ini berkontribusi bagi Gresik. Dalam bidang kebudayaan, keluarga ini berkiprah menggali dan melestarikan seni tradisional dengan mendukung even-even budaya masa itu. Dalam bidang pendidikan keluarga ini mendirikan kursus setingkat sekolah rakyat untuk anak-anak boemiputra secara gratis. Waktu itu, memang, sekolah Belanda (HIS) hanya menerima murid anak-anak orang Belanda, Cina, dan Bangsawan Kaya. Pelajaran yang ditekankan dalam sekolah gratis ini adalah membaca, menulis, berhitung dan membuat jajanan. Setelah menamatkan sekolahnya, diharapkan lulusan bisa mandiri mempraktikkan apa yang diajarkan di sekolah.  

Buku ini, menurutku sangat berharga bagi siapa pun yang menaruh minat pada sejarah Gresik, terutama sejarah kewirausahaan dan dunia usaha di Gresik. Sampai sekarang, Gresik antara lain terkenal pula memiliki banyak pengusaha kecil dan menengah yang tangguh dengan etos wirausaha yang kokoh.  Buku ini juga meruntuhkan anggapan bahwa perdagangan masa itu pastilah dikuasai etnis Cina dan Arab. Di Gresik, Pribumi pun sangat tangguh. *

Thursday, October 21, 2010

Berandai-andai Gresik Jadi Kota Pariwisata, Penuh Turis


Pariwisata memang seringkali mendongkrak kinerja ekonomi suatu wilayah, namun apakah juga berbanding lurus dengan pertumbuhan moral dan spiritual warga di wilayah tersebut?

Lumrah memang, di negara mana pun, khususnya negara miskin, pariwisata dianggap primadona. Sebuah wilayah yang banyak dikunjungi wisatawan, terutama wisatawan asing, akan banyak memperoleh keuntungan finansial bagi warganya.

Bahkan di negara ini, kini banyak wilayah bersolek sebersolek-bersoleknya agar tamu betah tinggal. Banyak buku-buku, majalah dan web wisata berlomba menampilkan keunikan suatu objek dan kawasan. Seringkali aku merasa, banyak yang kebablasan dalam promosi. Saat aku tertarik dan berkunjung, ternyata apa yang senyatanya tidak sesuai dengan promosinya.   

Ini, aku pengen berkisah tentang sebuah wilayah yang menurutku masih “asli” dan tampil apa adanya, tidak dibuat-buat. Warganya ramah, bersahaja, dan terbuka.  

Kami bertiga, aku, Isabel Gonzalez Rojo, dan Made Wirya dipertemukan dalam minat yang sama. Sama-sama menyukai lingkungan hidup, sejarah dan budaya. Isabel yang Warga Negara Spanyol ini pernah melanglang buana di berbagai negara sebelum akhirnya jatuh cinta pada Surabaya yang katanya memberi keramahan batin padanya. Made Wirya, waktu senggang ia pakai untuk berburu barang antik dan membuat film. Aku sendiri suka mendokumentasikan perjalanan dalam bentuk tulisan.

Pernah kami bertiga melewatkan waktu seharian, khusus untuk merasakan “aura” Kota yang berbatasan dengan Surabaya bagian Utara, yakni Gresik, April lalu. Aku dan Isabel bukan warga Gresik. Made yang warga Gresik lebih banyak bertindak sebagai “pemandu” kami.

Selama beberapa jam kami putar-putar: ngobrol bareng warga, mengunjungi Kota Lama Gresik yang penuh bangunan bersejarah. Kami juga mengunjungi kompleks makam yang mulia Sunan Giri. Lantas melihat-lihat industri kecil, juga ngopi di sebuah warung kecil yang kopinya terkenal enak.

Oh ya, kami kunjungi juga Kampung nelayan Lumpur yang tampak sangat berjiwa. Sangat hidup. Semua tubuh lelakinya liat. Perempuannya pun pekerja keras. Hingga seolah tak satu menit pun mereka lewati dengan berpangku tangan. Di Lumpur pula kami juga mengunjungi kediaman Nur Hasyim, pembaca macapat pesisiran, yang bersahaja dan membuat kami nyaman di rumahnya.

Hanya berkeliling sehari saja, namun kami punya pendapat sama. Gresik – yang sebelum ini juga nggak masuk dalam referensi minatku untuk berkunjung – ternyata menyimpan pesona luar biasa. Inilah yang kami cari.  

“I’ll be back here,” janji Isabel sore itu saat meninggalkan kota santri tersebut.

Sejak kunjungan itu, kami bertiga tenggelam dalam kesibukan rutin. Isabel terbang ke Kamboja. Made dengan pekerjaannya. Namun sesekali Made dan warga Gresik yang kukenal saat kunjungan singkat April itu senantiasa menghubungiku bila ada even-even budaya di Gresik. Aku sempat mendatangi Kaul Sindujoyo, Macapatan, kembali sharing dengan Nur Hasyim dan keluarga, juga ngobrol dengan Oemar Zainuddin, penulis buku Kota Gresik 1896-1916, Sejarah Sosial Budaya dan Ekonomi.

Ya, kunjungan April itu memang titik tolak kami – khususnya aku dan Isabel –dalam memandang Gresik. Bahwa kota pelabuhan ini tidak lagi kami anggap sebagai nothing, namun something unique. Sebuah kota kecil yang menginspirasi. Panas terik wilayah ini tak berarti dibandingkan dengan kejernihannya yang bagai air zamzam, pelepas dahaga hati.  

Diskusi Bareng Komunitas

Isabel kembali mengunjungi Surabaya Oktober ini. Ia memenuhi janjinya untuk kembali ke Gresik.

Aku, Isabel, dan Made Wirya kembali bertemu dalam even diskusi informal di rumah Oemar Zainuddin di Kampung Kemasan. Gresik Lovers yang hadir tak hanya dari Gresik. Mereka terdiri dari wakil komunitas, guru, budayawan, pemerintah, wakil dari kawasan Malik Ibrahim, dll. Ada juga partisipan dari kalangan perguruan tinggi di Surabaya, ITS dan Untag. Kami semua sharing perkembangan Gresik.  

Sharing yang cukup mengemuka dalam diskusi informal sepanjang 3 jam itu antara lain:
-         Mungkinkah Gresik ditetapkan Unesco menjadi Warisan Budaya Dunia?
-         Bagaimana meningkatkan kecintaan masyarakat Gresik terhadap budayanya?
-         Action apa yang harus dilakukan untuk memprkenalkan Gresik?

Isabel menjadi semacam guest star. Maklum saja, dia nggak hanya cantik, namun smart. Lebih-lebih lagi, ia pernah menjadi staf Unesco Kamboja. Sangat klop bila menjadi narasumber tepercaya malam itu. Kawan baikku ini cukup jernih mengungkapkan buah-buah pikirannya dalam sharing tersebut. Ia merinci syarat apa saja yang harus dipenuhi demi gelar “Warisan Sejarah Dunia”. Ada istilah man heritage, underwater heritage, tangible heritage, dan intangible heritage. Di mata Isabel, Gresik berkemungkinan besar memenuhi kriteria untuk menjadi warisan sejarah dunia.  

Namun, Isabel mengajak para partisipan diskusi untuk merenung. Apakah gelar Warisan Sejarah Dunia benar-benar diinginkan? Sudah siapkah masyarakat Gresik? “Masalahnya, saya banyak melihat, wilayah-wilayah Warisan Sejarah Dunia mengalami banyak perubahan, baik sosial, kultur, maupun spiritual,” katanya.

“Misalnya di Macau, Cina, sejak ditetapkan menjadi Warisan Sejarah Dunia, saya melihat di mana-mana turis. Perubahan begitu drastis di sana,” kata master humanitarian dari universitas terkemuka di Australia.  

Namun Isabel menyatakan, bila memang menginginkan Gresik didaftarkan sebagai warisan sejarah dunia, biarlah administrasi untuk hal tersebut tetap dipenuhi. Tapi tanpa gelar itu pun semua yang hadir dalam diskusi memiliki tanggung jawab untuk mempertinggi kesadaran warga Gresik agar lebih mencintai kultur baik yang dibangun di Gresik selama berabad-abad.

Sesungguhnya April lalu, kami bertiga di sebuah warung kopi di Gresik sudah mendiskusikan masalah ini. Isabel secara pribadi, lebih suka sebuah wilayah tetap asli. Tanpa disulap-sulap, apalagi demi pariwisata. “Saya nggak tahu, apakah Vitri masih senang ke Gresik bila kota ini dipenuhi turis?” tanyanya padaku sambil menyeruput kopinya di warung di pusat kota Gresik siang itu. *alpha savitri

Friday, October 15, 2010

Apa Itu: Reduce, Reuse, Recycle

Foto: Dok. Pusdakota Ubaya
Banyak cara dilakukan untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan. Di antaranya Reduce, Reuse, dan Recycle. Mungkin kita sudah kenal istilah ini. Namun apakah dalam praktik keseharian kita menjalankannya? Karena, sayang bila kita hanya mengenalnya di tataran pikiran, namun tidak sampai pada perbuatan. Ini sama halnya dengan pegiat lingkungan yang melakukan demo akan kerusakan lingkungan, namun membuang sampah plastik di tempat demo, seolah semua tempat di dunia ini keranjang sampah.
Di sini saya menampilkan foto dokumentasi Pusdakota Ubaya. Bagaimana surat kabar yang sudah tidak dibaca masih bermanfaat untuk kostum pada sebuah pertunjukan tari. Pusdakota Ubaya yang juga memiliki sanggar tari berupaya mempraktikkan perilaku hijau, bahkan sampai pada kostum tarinya. Simpel dan nggak mahal, bukan?  

Sesungguhnya, apa arti Reduce, Reuse, dan Recycle? Ini uraiannya.

Reduce (Mengurangi)
Sebagai manusia kita pasti memiliki sampah, apa pun bentuknya. Kita memiliki kertas, baju, tas, dan berbagai barang yang potensial memperbanyak sampah di bumi. Belilah barang yang penting-penting saja. Jangan mengoleksi secara berlebihan bila barang-barang tersebut nantinya harus berakhir di tempat sampah.

Reuse (Memakai Kembali)
Toko dan department store banyak menawarkan barang-barang baru yang cantik dan menggiurkan hati. Kalau kita semua terbuai dengan bujuk rayu iklan di televisi ataupun surat kabar, bumi ini dalam kurun dekat akan dipenuhi sampah. Bila kita peduli pada nasib anak cucu, mulailah dengan “gaya hidup hijau”. Perpanjang masa pakai barang-barang kita. Jangan segan memakai barang-barang lama yang masih berfungsi. Jangan cemas bila kita dibilang ketinggalan zaman karena suka memperpanjang masa pakai suatu barang.

Recycle (Mendaur Ulang)
Tidak semua barang bisa didaur ulang. Namun bila barang di rumah yang sudah tidak terpakai bisa didaur ulang menjadi barang lain yang bermanfaat, akan sangat berguna bagi alam ini. Contoh: plastik kemasan minyak goreng yang sudah tidak terpakai bisa dimanfaatkan sebagai pot untuk membibit tanaman. Sachet-sachet bungkus mie instan dijahit untuk tas belanja, dsb.