Showing posts with label Tips Organik. Show all posts
Showing posts with label Tips Organik. Show all posts

Friday, October 15, 2010

Apa Itu: Reduce, Reuse, Recycle

Foto: Dok. Pusdakota Ubaya
Banyak cara dilakukan untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan. Di antaranya Reduce, Reuse, dan Recycle. Mungkin kita sudah kenal istilah ini. Namun apakah dalam praktik keseharian kita menjalankannya? Karena, sayang bila kita hanya mengenalnya di tataran pikiran, namun tidak sampai pada perbuatan. Ini sama halnya dengan pegiat lingkungan yang melakukan demo akan kerusakan lingkungan, namun membuang sampah plastik di tempat demo, seolah semua tempat di dunia ini keranjang sampah.
Di sini saya menampilkan foto dokumentasi Pusdakota Ubaya. Bagaimana surat kabar yang sudah tidak dibaca masih bermanfaat untuk kostum pada sebuah pertunjukan tari. Pusdakota Ubaya yang juga memiliki sanggar tari berupaya mempraktikkan perilaku hijau, bahkan sampai pada kostum tarinya. Simpel dan nggak mahal, bukan?  

Sesungguhnya, apa arti Reduce, Reuse, dan Recycle? Ini uraiannya.

Reduce (Mengurangi)
Sebagai manusia kita pasti memiliki sampah, apa pun bentuknya. Kita memiliki kertas, baju, tas, dan berbagai barang yang potensial memperbanyak sampah di bumi. Belilah barang yang penting-penting saja. Jangan mengoleksi secara berlebihan bila barang-barang tersebut nantinya harus berakhir di tempat sampah.

Reuse (Memakai Kembali)
Toko dan department store banyak menawarkan barang-barang baru yang cantik dan menggiurkan hati. Kalau kita semua terbuai dengan bujuk rayu iklan di televisi ataupun surat kabar, bumi ini dalam kurun dekat akan dipenuhi sampah. Bila kita peduli pada nasib anak cucu, mulailah dengan “gaya hidup hijau”. Perpanjang masa pakai barang-barang kita. Jangan segan memakai barang-barang lama yang masih berfungsi. Jangan cemas bila kita dibilang ketinggalan zaman karena suka memperpanjang masa pakai suatu barang.

Recycle (Mendaur Ulang)
Tidak semua barang bisa didaur ulang. Namun bila barang di rumah yang sudah tidak terpakai bisa didaur ulang menjadi barang lain yang bermanfaat, akan sangat berguna bagi alam ini. Contoh: plastik kemasan minyak goreng yang sudah tidak terpakai bisa dimanfaatkan sebagai pot untuk membibit tanaman. Sachet-sachet bungkus mie instan dijahit untuk tas belanja, dsb.

Saturday, August 16, 2008

Go Organic 1: Kenapa Harus Menanam Sayur di Kebun Sendiri?


Menanam sayur sendiri? Pengin, tapi aku nggak punya lahan kebun. Begitu kata banyak orang. Padahal, sayuran bisa tumbuh di pot. Nggak percaya? Lihat foto ini. Aku mengambil foto hasil karya sayuran dalam pot yang ditanam kawan-kawan di Wana Patria, Blitar. Sebaiknya, kita menanam sayuran yang kita konsumsi, karena:

► Kita tidak tahu dari mana asal sayuran yang kita makan. Membelinya di pasar atau supermarket, hasilnya sama saja. Kita tak tahu apakah sayuran itu tanpa atau mengandung pestisida.

► Mungkin kita membeli sayuran dengan label organik. Tapi apakah sayuran itu benar-benar organik atau setengah organik? Bisa saja benihnya memang organik. Tapi lingkungan tempatnya bertumbuh, sebagian besar mengembangkan budidaya sayuran non organik. Nah, apa nggak ketularan, tanaman sayuran yang katanya organik itu?

► Mengembangkan kebun organik akan menghemat belanja. Paling tidak pengeluaran untuk membeli sayuran bisa ditekan.

► Berkebun itu rekreasi dan olahraga yang mengasyikkan. Tidak saja badan, pikiran pun menjadi sehat bila kita dekat alam.

► Bila bersahabat dengan alam, kita melestarikan tanah, tumbuhan, dan hewan-hewan yang diberikan semesta untuk kepentingan manusia.

Lantas, sayuran apa yang sebaiknya kita tanam? Tentu saja:
1. Sayuran yang disukai oleh keluarga.
2. Sayuran yang cukup mahal untuk dibeli
3. Sayuran yang susah didapatkan di pasar atau supermarket
4. Sayuran yang tidak memerlukan lahan luas dan cocok dengan udara lingkungan kebun kita.

Go Organic 2: Beda Sayur Organik dan Non Organik

Sayuran organik ditanam sesuai kaidah-kaidah alam. Sedangkan sayuran non organik umumnya ditanam untuk memenuhi permintaan pasar. Berikut ini beda keduanya:


tabel2

Go Organic 3: Sintetis dan Bahan Bakar Fosil

Banyak risiko yang akan kita peroleh seandainya kita berkeras untuk memakai pupuk sinetis. Tidak hanya mencemari tanah, meninggalkan risidu sintetis pada sayur, dan buah-buahan, namun pembuatan pupuk sintetis mengurangi persediaan bahan bakar fosil.

Padahal kita tahu, bahan bakar fosil jumlahnya sangat terbatas di bumi. Sebagai gambaran, untuk membuat satu ton pupuk nitrogen saja, kita perlu sejumlah energi yang dilepas dari 5 ton batubara.

Pupuk kimia juga meracuni air tanah yang kita konsumsi sehari-hari. Bayangkan, apa yang terjadi bila tubuh kita tercemar racun kimia.

Menambahkan materi-materi semacam pupuk nitrogen non organik untuk tanah cenderung menghancurkan materi organik yang terkandung dalam tanah. Tanah menjadi tidak subur dan meningkatkan kecenderungan erosi.

Dalam sistem yang alami, nutrisi-nutrisi tanaman berasal dari daur ulang dan pengolahan bahan-bahan organik di tanah. Pupuk kimia hanya akan membuat sampah organik tidak lagi penting untuk didaur ulang untuk lahan produktif. Pada gilirannya, ini menimbulkan perilaku untuk menumpuk saja sampah-sampah kita pada lahan kosong, atau membuangnya di sungai (menyebabkan polusi air), atau membakar (menyebabkan polusi udara). Padahal, kita semestinya mencoba untuk bijak dalam hal pemakaian pupuk untuk kebun organik kita. Caranya adalah:

Uraian di atas sebaiknya sebaiknya kita:
o Meminimalkan pemakaian energi bahan bakar fosil
o Mendaur ulang sampah organik untuk kebun organik
o Tidak menyebabkan polusi
o Memberi nutrisi pada tanaman pada saat tanaman membutuhkan.
Mengupayakan tanah kebun kita memelihara keutuhannya sebagai zat organik penyangga kehidupan.