Monday, September 29, 2008

Pak Tulus Wuliata Sang Bunga Semesta

Pak Tulus Wuliata adalah salah satu di antara para mitra Pusdakota yang intens berkontak via email sejak dua tahun lalu. Ia mantan presiden Rotary Club Bali. Ia juga pemilik sekolah musik kenamaan di Denpasar. Kenal nama Pusdakota dari kawan-kawannya sesama rotarian.

Semula ia bertanya-tanya soal pelatihan teknososial pengelolaan sampah rumah tangga yang difasilitasi Pusdakota. Lantas hubungan pun semakin intens saat ia membeli Keranjang Takakura. Ia senantiasa meng-update perkembangannya pada aku yang memang bertugas membalas surat-surat dari para mitra Pusdakota. Aku senang, di tengah kesibukan-kesibukannya ia melakukan pengomposan bersama istrinya. “Ms Vitri, biarpun manula, saya masih ingin berkontribusi pada kehidupan,” begitu dalam salah satu emailnya.

Email-email pun akhirnya tidak hanya membahas seputar keranjang takakura, namun juga soal-soal metode pengomposan yang lain, soal community development, charity yang biasa dilakukannya. Aku mengiriminya publikasi-publikasi kantorku. Ia bilang senang dikirimi media-media demikian dan ia mengaku memajangnya di sekolah musik yang dimilikinya.

Sekali waktu ia pernah mengeluh padaku, agak ribet melakukan pengomposan. Aku pun menyemangatinya. “Pak Tulus, ini bukan masalah ribet atau tidak ribet. Tapi saya dan kawan-kawan di Pusdakota meyakini, berjuta-juta mikroorganisme yang ada dalam Keranjang Takakura adalah makhluk Tuhan yang perlu makanan dari sampah-sampah kita. Mereka adalah mikroorganisme baik yang membantu manusia untuk mengurai sampah menjadi kompos,” itu antara lain bunyi balasan emailku.

Aku juga melayangkan tips-tips bagaimana membuat praktik mengompos menjadi pekerjaan yang ringan.

Esoknya, di email ia mengaku mulai tahu kenapa ia harus mengomposkan sampah-sampah dapurnya. Ia mengaku beruntung karena istrinya pun mendukungnya.

Pernah ia mengirimiku daftar makanan yang harus dihindari dan yang direkomendasikan untuk golongan darah O (Golongan darahku). Katanya, ia dan istri sudah menjajal dan badannya terbukti fit. Duh, dalam daftar kiriman itu ada mie, seafood dan makanan-makanan kegemaranku. “Mana mungkin saya bisa mencobanya, Pak,” protesku. Tapi ia menyemangatiku untuk mencoba.

Pernah, ia lama tidak ber-email. Sekitar tiga atau empat bulanan. Aku melakukan kontak padanya. Menanyakan kabar aksi pengelolaan lingkungan yang dilakukannya. Esoknya ia membalas begini,” saya begitu terkesan dengan cara Pusdakota memelihara relasi. Lantas ia cerita tentang relasinya di Australia yang mengompos dengan cara vermikomposting. Ia bertanya tentang vermikomposting dan teknis pelaksanaannya.

Aku membalas dan bilang padanya bahwa tali silaturrahmi harus ditegakkan selalu. Juga, jaringan dan gerakan penyelamatan lingkungan harusnya dibangun dari orang-orang yang peduli menekuni penyelamatan lingkungan lewat perbuatan-perbuatan kesehariannya. Karena, banyak sekali orang mengklaim dirinya sebagai sahabat dari lingkungan, tapi tidak bersikap dan berpraktik ramah lingkungan.

Lantas, suatu kali Pak Tulus bilang, ingin mengundangku ke lokasi di mana ia aktif melakukan kegiatan community development di sebuah kampung miskin di sekitar Bedugul. Aku berterima kasih pada undangannya dan kubilang, kelak aku mengagendakan diri untuk ke sana kalau semua pekerjaanku benar-benar kelar. Sudah lama aku nggak ke Bali dan kangen nasi jenggo. (Pak Tulus bilang nasi jenggo nggak bagus buat kesehatannya karena ada mienya. Menurut diet golongan darah, ia harus menghindari mie).

Itu suratnya yang terakhir. Lama sekali ia tak berkabar lagi. Tapi aku merasa biasa-biasa saja. Siapa tahu ia sedang sibuk, tak ingin diganggu, atau apa pun. Aku pun meng-email dia sebagaimana yang pernah kulakukan.

Tapi kemarin, pas aku browsing internet, entah kenapa kepikiran terus pada Pak Tulus. Seolah ada yang menggerakkanku untuk mengetahui kabarnya. Lantas, aku mengetikkan ”Tulus Wuliata”, Bali pada search engine google. Wow, aku melihat kiprah-kiprah Pak Tulus yang sangat banyak untuk kemajuan Bali. Sekali lagi aku kagum. Begitu banyak yang tidak kutahu darinya karena dia tidak pernah menyebut kiprah-kiprahnya yang teramat besar. Benar-benar rendah hati si bapak.

Sampai tibalah aku ngeklik situs salah satu surat kabar di Bali. Surat kabar itu lead-nya berbunyi: ”Bertepatan dengan peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2008, tutup usia seorang tokoh masyarakat yang kiprahnya tak bisa dipisahkan dengan proses pembauran bangsa di Bali. Dia adalah Drs. Josephus Damianus Tulus Wuliata, Apt (71).”

Aku langsung lemas dan merasa tak berdaya. Mataku berkaca-kaca. Aku memang tak mengenalnya secara langsung. Tapi dari email-emailnya, aku kenal kegigihannya. Aku kenal sikap rendah hatinya. Ini cukup membuatku terinspirasi dan tidak melupakannya.

Browsing-browsing lagi, aku melihat foto kematiannya. Ia menghuni peti. Wajahnya segar. Ya Tuhan, aku baru tahu wajahnya di saat ia tutup usia. Mataku basah. Aku nggak tahu, apa yang menyebabkan dia tutup usia. Sakitkah atau apa? Dalam hati kuberucap selamat menempuh kehidupan tahap selanjutnya. Kuharap konsistensinya pada nilai-nilai adikodrati yang pernah ia jalani pada kehidupannya terus mengharumi semesta ini. (Alpha Savitri)

Thursday, September 25, 2008

Bu Lily yang Tekun Belajar Kompos

Bu Lily tinggal di Malang. Sering sharing denganku soal-soal yang berhubungan dengan kompos via email. Semula aku nggak tahu, seperti apa dia. Remaja, paruh baya, atau sepuh. Yang aku tahu hanyalah, dia memiliki semangat tinggi untuk mengelola lingkungan hidup lewat rumah tangganya.

Namun hari di mana aku tahu seperti apa Bu Lily secara fisik tiba juga. Dia datang ke kantor. Napasnya agak tersengal. Keringat pun bercucuran. Katanya habis naik kendaraan umum. Kantorku di seputar kampung padat penduduk Rungkut Surabaya. Relatif susah dijangkau orang yang baru pertama kali datang.

“Oh, ini toh yang namanya Bu Lily. Sudah sepuh,” seruku dalam hati. Lantas kami pun mulai sharing apa pun tentang lingkungan hidup.

Bu Lily datang ke kantor sendirian, hanya untuk belajar. Tidak yang lain-lain. Hampir lima jam dia manfaatkan waktunya di Pusdakota untuk bertanya dan bertanya, lantas mencatat. Ia pulang menjelang maghrib, langsung ke Malang. Harus naik kendaraan umum beberapa kali untuk sampai di rumahnya.

Kini aku sering menerima email darinya. Ia sharing kepadaku tentang pembuatan pupuk cair dari bonggol pisang. Ia utarakan keinginannya pula untuk menanam padi dalam polibag. Ia selalu sharing tentang pengomposan yang dilakukannya.

SMS-nya yang terakhir datang tadi pagi. Dia mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Ia kabarkan pula, bakteri padatnya sudah jadi, tinggal dipakai. Pupuk cair dari dari tempe juga berhasil baik.

Ibu Lily, sungguh aku banyak belajar darinya. Fisiknya memang tampak lemah dan cepat capek. Tapi dalam dirinya tersimpan energi dahsyat untuk terus mengembangkan diri. Ya, menjadi tua itu pasti. Tapi menjadi bijaksana adalah pilihan. (Alpha Savitri)

Hikmah dari Partisipan Pelatihan Pengelolaan Sampah

Bapak Aziz sudah lumayan sepuh. Usianya 70 tahun. Tapi kulihat semangatnya untuk mengikuti pelatihan teknososial pengelolaan sampah di Pusdakota sangat tinggi. Dalam permainan-permainan untuk mendukung pemahaman bahwa sampah harus diolah, misalnya, ia sangat bersemangat. Dalam praktik-praktik pengelolaan sampah, dengan napasnya yang tersengal-sengal, ia berupaya melesat, sebagaimana partisipan muda usia. Pengambilan sampah di kampung pun ia lakoni dengan kesungguhan. Para fasilitator dari Pusdakota jadi semakin bersemangat karena semangat Pak Aziz mampu menular ke sekelilingnya. Pelatihan pun semakin heboh.

Saat ia istirahat siang, aku dan dia punya kesempatan sharing. Aku membagikan padanya pengalamanku membuat pupuk cair dan mengurus kebun rumahku. Dia takjub saat kutunjukkan berbotol-botol pupuk cair yang kubikin di halaman belakang kantor. Kutunjukkan pula bakteri cair bikinanku untuk menggelontor tempat cuci piring dan WC. Kutunjukkan fungsi-fungsinya antara lain agar septictank kita tidak lekas penuh. Kutunjukkan cara-cara pembuatannya yang gampang. Kubilang bahwa kita nggak perlu beli di toko untuk kepentingan yang begituan. Tuhan telah menyediakan semuanya di alam ini. Kita tinggal mempelajari dan mempraktikkan.

Ia catat tips-tips dariku. Pelan-pelan dan teliti. Aku menangkap spirit pembelajarannya yang demikian besar.

Pak Aziz bilang, ia sekarang mengurusi rumah retret satu hektar. ”Biar cuma satu hektar, saya ingin produktivitas lahannya tinggi. Untuk tanaman organik dan kompos,” katanya.

Ia bilang pernah mengelola lahan seluas 20 hektar miliknya para jendral Jakarta di Cisarua. Bisnis tanaman organik itu berjalan baik. ”Tapi waktu itu saya memage. Perintah-perintah saja dan tidak turun ke bawah. Bahkan bertahun-tahun di situ saya nggak tuntas jalan-jalan ke lahan,” katanya tertawa.

Kini setelah sepuh ia ”pulang kampung” ke Batu, Malang. Ia mengelola lahan yang ”hanya” satu hektar. Namun, justru, ia ingin sungguh-sungguh menekuni. Dengan tenaga yang masih tersisa. Untuk itu ia merasa harus sungguh-sungguh belajar. ”Belum terlambat, kan,” katanya.

Aku terharu kesungguhannya. Ada rasa malu. Benar-benar mengingatkanku untuk senantiasa terjaga untuk tetap berkarya dan memanfaatkan waktu-waktu yang dipersembahkan Tuhan padaku, dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Dan usia, bukan hambatan untuk berkarya. (Alpha Savitri)

Wednesday, September 24, 2008

Petani Anggap Limbah Pabrik sebagai Berkah

Kisah-kisah yang datang dari dunia pertanian di Indonesia hampir sebagian besar bukan kisah manis. Belakangan ini kisah-kisah tersebut kembali muncul di berbagai macam surat kabar di negeri ini.

Di sini, aku ingin pula berbagi kisah risetku bersama kawan-kawan tahun 2007. Yakni tentang lahan-lahan pertanian di wilayah industrial Gempol, Pasuruan. Sawah-sawah, terutama yang berbatasan dengan jalan raya di Gempol hanya beberapa. Itu pun terhimpit pabrik-pabrik.

Saat menelusuri wilayah target riset, kami melihat sawah yang airnya berwarna-warni. Ada yang dominan kuning, ada pula yang merah, biru, hijau. Pokoknya nano-nano. Jadi, tidak hanya sumur-sumur yang airnya berwarna-warni. Bahkan sawah demikian pula.

Pak tani, di mana-mana tampil bersahaja dan ramah. Menyapa kami, yang belum mereka kenal. Aku bertanya pada mereka satu per satu secara terpisah, bagaimana perasaannya menggarap sawah mereka yang berwarna-warni.

Mereka bilang, ini merupakan konsekuensi dari berdirinya pabrik-pabrik yang ada di wilayah Gempol, termasuk pabrik tekstil. Kata mereka akan percuma untuk mempermasalahkan karena biaya emosionalnya justru akan tinggi karena mereka harus berhadapan dengan pusat-pusat kekuasaan, baik yang ada di perusahaan ataupun pemerintahan. “Bisa panen saja, sudah bagus,” ujar mereka.

Ada pula kisah yang menurutku menggemaskan sekaligus memprihatinkan. Di beberapa blok persawahan, para petani merasa bersyukur, justru dengan kiriman air limbah dari sebuah perusahaan pengalengan ikan ke sawah-sawah mereka. Ini terjadi sejak tahun 1990-an. Sehingga, panen yang semula dua kali menjadi tiga kali berkat pengairan yang cukup.

Beberapa petani yakin, air limbah menyuburkan tanaman padi. Mereka yakin karena diinformasikan oleh perusahaan bahwa air limbah tersebut masih aman secara baku mutu untuk dipakai. Pengolahan air limbah dalam pabrik tersebut memasukkan urea atau mes.

Kendati bersyukur dengan kiriman air limbah pada lahan pertanian, mereka mengakui, sejak diairi air limbah, kualitas padi tersebut menurun. Padi hasil panen berwarna keruh dan bulirnya mudah pecah.

Air limbah perusahaan juga menyebabkan gatal-gatal pada kulit petani penggarap. Masalah lain adalah, tanah sawah jadi labil karena mengandung endapan-endapan yang membuat bibit tidak kokoh bila ditanam.

Saat peristiwa gagal panen dua kali berturut-turut, mencurigai, limbah pabrik yang menjadi sebab. Namun menurut pabrik, limbah tersebut masih aman. Petugas penyuluh menyarankan para petani untuk mengistirahatkan sebulan tanah mereka setelah dua kali panen. Direkomendasikan, petani melakukan dua kali penanaman padi dan satu kali palawija.

Ya, ketahanan pangan negeri ini memang diuji habis-habisan. Para petani yang ada di garda depan ketahanan pangan demikian diperdayakan. Apatis dan tidak tahu harus berbuat apa. Limbah yang diolah dengan pupuk urea pun dipercaya sebagai berkah.

Kisah ini pada akhirnya semakin memantapkan beberapa kawanku untuk hadir di jalur advokasi pada pak tani. (Alpha Savitri)

Tuesday, September 23, 2008

Iming-iming Duit dalam Gerakan Pengelolaan Lingkungan? No Way


Gerakan Pengelolaan Lingkungan Hidup dilakukan para ibu
di RW 14 Rungkut Lor Surabaya lewat program Tandur Katresnan.
Foto: Pusdakota

Ini lagi-lagi kisah tentang para tamu yang datang ke Pusdakota dan meninjau Graha Kompos kami. Sebagian pertanyaan yang pertama kali sampai padaku adalah tentang aspek ekonomi dari pengelolaan sampah berbasis komunitas. “Menurut pengalaman Anda, berapa total pendapatan dari pengolahan kompos yang sampai menggunung begini?” Atau, mereka bertanya begini,” Wah, kalau saja semua kampung mengolah sampah, pasti kaya-kaya. Soalnya lahan-lahan perkotaan membutuhkan kompos yang banyak. Bisa dong, dijual ke dinas kebersihan dan pertamanan.”

Jadi ingat lagunya Nicky Astria (kalau nggak salah). ”Uang bisa bikin orang senang tiada kepalang. Uang bikin mabuk kepayang....

Ya, di zaman ini, uanglah yang berkuasa. Semua serba diukur dengan uang. Sampai-sampai pesan-pesan lingkungan hidup ataupun pemberdayaan masyarakat akan lebih eksotis dan menarik minat bila dihubungkan dengan rupiah.

Benarkah demikian? Menurut hematku, tidak sama sekali. Untuk mempublikasikan gerakan lingkungan hidup, iming-iming finansial justru jangan sekali-kali jadi alternatif.
Karena ini tidak mendidik.

Aku membayangkan seandainya fasilitator masyarakat, pada saat melakukan fasilitasi berkata seperti ini,” Coba bayangkan Bapak-bapak, dengan mengolah sampah, kita bisa mendapat keuntungan sekian, sekian, sekian.”

Pastinya, akan banyak yang tertarik pada omongan model begini. Namun, tidakkah ini telah keluar dari esensi untuk apa sampah diolah?

Kita semua nyampah dan kita harus bertanggung jawab atas sampah-sampah yang kita hasilkan agar bumi ini usianya semakin panjang. Nggak ada hubungannya apakah kita bakal dapat keuntungan finansial atau tidak. Kita tak bisa membebankan semua tanggung jawab pengelolaan sampah ke pihak lain. Meskipun kita sudah bayar tukang sampah. Kita harusnya malu, membuat mobil kita terjaga kebersihannya dengan jalan melempar sampah yang kita hasilkan ke jalanan. Itu namanya egois. Kita nggak bisa dong, setelah nyapu-nyapu halaman, sampah-sampah kita buang ke sungai. Halaman kita memang bersih, namun sungainya yang kasihan. Itu sikap tidak terpuji. Egois.

Aku jadi ingat cerita kawan-kawanku, fasilitator pemberdayaan masyarakat di wilayah Rungkut Surabaya. Pada tahun 2000 mereka menawari 11 RT di sekitar Rungkut untuk melakukan pengelolaan sampah bersama-sama mereka. Ternyata yang mau bekerjasama hanyalah satu RT. Yang lain ragu-ragu. Atau, banyak yang menginginkan kejelasan, apa yang didapat dari program pengelolaan lingkungan hidup? Berapa uang yang bakal didapat dari program pengelolaan sampah?

Akhirnya, benar-benar mereka berangkat dari satu RT saja. Dan, RT tersebut telah mampu membuktikan kepada RT-RT sekitarnya bahwa banyak manfaat yang mereka peroleh dari pengelolaan sampah berbasis komunitas ini. Terutama, modal sosial terbangun dan berkembang dengan sendirinya. Nilainya melebihi takaran-takaran ekonomi. Spirit pengelolaan lingkungan RT tersebut akhirnya menular ke sekitarnya. Kini, RT-RT di sekitarnya pun ikut berlomba menjadi yang terbaik di bidang lingkungan hidup. Materi bukan lagi alasan mereka untuk menjamin suksesnya gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Mereka membiayai keperluan-keperluan kampungnya sendiri demi gerakan menuju lingkungan bersih dan sehat. Dan saat mereka tidak matre, kulihat justru materi itu datang sendiri di komunitas mereka lewat program-program mereka sendiri yang sudah ”layak jual”. (Alpha Savitri)

Friday, September 12, 2008

Infrastruktur dan Teknologi Pengomposan Saja Tak Cukup


Rumah kompos Pusdakota dan komunitas yang berkunjung.
Foto-foto: Dokumentasi Pusdakota
Para tamu yang datang ke kantorku untuk berkunjung ke Graha Kompos, senantiasa menganggap tempat komposting kami lumayan megah dengan fasilitas lengkap . Tidak hanya dari bentuk bangunannya secara fisik, namun isinya lengkap. Ada sampah organik yang siap olah, ada mesin pencacah, dan instalasi yang baik. Sampah rumah tangga yang diolah pun nggak berbau busuk. “Terang saja, Pusdakota dan kampung RW 14 bisa mengolah sampah dengan baik. La wong semuanya serba tersedia. Tapi bagaimana dengan kampung kami? Kami belum punya tempat kompos,” itu pertanyaan umum dari para tokoh kampung yang studi banding di Graha Kompos Pusdakota.

Aku pun selalu menjawab begini,” Misalkan Bapak memiliki tempat pengelolaan sampah seperti yang dimiliki Pusdakota, apakah menjamin warga mau memilah sampah dari rumah masing-masing, kemudian mengolah sampah organiknya di tempat pengolahan?”

Umumnya, para tamu tokoh kampung langsung berpikir dan menggeleng. “Wah, mereka sudah tidak terbiasa memilah sampah. Mereka sulit disadarkan. Alasannya sudah ada tukang sampah dan sudah bayar. Kenapa harus pilah-pilah?”

Ada pula tamu yang langsung bilang begini,” bagaimana kalau milah sampahnya di rumah kompos saja kalau warga nggak mau memilah sampah. Mungkin kami bisa menggaji orang untuk memilah sampah.

Pertanyaan para bapak ini menurutku wajar saja. Para warga kampung bisa saja berpikir mendirikan tempat pengomposan dan menggaji orang untuk memilah sampah. Namun menurutku ini tidak sejalan dengan spirit gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Apa gunanya rumah kompos yang telah berdiri bila tidak disertai kesadaran warga untuk memilah sampah? Juga, dari pengalaman kantorku, pemilahan, bila dilakukan di lokasi pengomposan di samping berbiaya juga memerlukan waktu yang panjang. Kantorku pernah meriset itu. Untuk memilah sampah yang datang dari 200 keluarga saja, diperlukan waktu sekitar tujuh jam.

Pertanyaan-pertanyaan para tokoh kampung yang menganggap bahwa infrastruktur dan teknologi jauh lebih penting dibandingkan spirit dan kesadaran warga mengingatkanku pada seorang kawan yang suka beli piring dan mangkok. Setiap ada model ataupun motif yang menurutnya bagus, ia beli tanpa merencanakan dia pakai apa mangkok tersebut. “Nanti kapan-kapan pasti ada gunanya,” begitu selalu ia mengatakan.

Dia memang berharap suatu saat akan terpakai, tapi tak kunjung terpakai juga mangkok tersebut sampai bertahun-tahun. Sampai akhirnya lemarinya penuh mangkok tanpa guna sama sekali.

Aku juga sering melihat, di internet banyak website yang dibangun dengan desain cool, tapi bertahun-tahun under construction melulu.
Memang, seringkali kita menganggap bahwa wadah jauh lebih penting daripada isi. Desain dan kemasan lebih penting daripada isi.

Aku senantiasa bertanya-tanya, kenapa orang-orang pada umumnya berpikir bahwa infrastruktur dan teknologi menjadi prioritas dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas? Kenapa tidak berpikir bahwa spirit perjuangan untuk cinta lingkungan lewat sarana pengelolaan sampah adalah yang mendasar untuk kita yang tinggal di bumi Indonesia? Dan kalau kita belum memiliki spirit perjuangan, ya harus ada yang menyadarkan. Itu gunanya pengorganisasian masyarakat. Aku sepakat bahwa pendekatan teknososial dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dipakai kantorku masih sangat relevan. Tidak hanya teknologi yang penting, namun juga pengorganisasian masyarakat.

Graha Kompos Pusdakota memang telah lengkap segalanya dan mengolah sampah yang berasal dari 1500 kepala keluarga. Tapi untuk mencapai tahap kelengkapan seperti sekarang, bukan sulapan. Perlu proses. Itu selalu kukatakan pada setiap tamu. Sejarahnya, pada tahun 2000 Graha Kompos masih sangat sederhana dan berbau busuk karena waktu itu kami belum tahu cara mengatasi bau sampah rumah tangga yang efektif. Tidak sebagaimana sekarang, masyarakat sekitar rumah kompos mendukung kerja-kerja kantorku, saat awal pendirian rumah kompos, kami didemo orang-orang sekitar.

Prioritas kami waktu itu adalah bagaimana mengorganisasikan komunitas di sekitar Pusdakota untuk bisa memaknai sampah sehingga mereka bisa memilah dan mengolah sampah mereka sendiri dengan kesadaran penuh. Kantorku berpendirian, masalah teknologi itu haruslah dikembangkan sesuai harapan, kemampuan dan kebutuhan masyarakat sendiri.

Beberapa tahun kemudian, saat masyarakat sudah semakin sadar dan banyak pembelajar di bidang lingkungan yang datang ke kantorku, barulah kantorku memikirkan agar rumah kompos dibikin senyaman mungkin untuk pembelajaran dan pelatihan.

Jadi, sesungguhnya rumah kompos nggak perlu dibangun megah. Yang penting, bangun dulu spirit gerakan untuk sadar mengelola sampah. Teknologinya bisa apa saja, tidak perlu seperti yang dikembangkan Pusdakota. Tidak usah pakai keranjang takakura ataupun open windrow juga bisa. Toh di dunia ini ada 1001 macam teknologi pengomposan.

Para tamu pun kebanyakan manggut-manggut dengan saranku. (Alpha Savitri)

Wednesday, September 10, 2008

Pengalamanku Menyemai Bibit yang Dianggap Afkir

Ini kisahku tentang bakal bibit atau bibit pada tanaman. Sejak dulu pelajaran yang kuterima adalah, kalau membibit, pilih-pilih yang terbaik agar bila tumbuh kelak, akan baik pula hasilnya, sebagaimana harapan kita. Berbagai metode pemilihan bibit yang baik pun ada dan diabsahkan. Mulai dari melihatnya secara fisik: bentuk, berat dll sampai uji-uji lain.

Dulu aku senantiasa menuruti metode pemilihan bibit yang telah diakui umum benar adanya. Aku pilih-pilih bibit apa saja yang akan kusemai. Yang nggak terpakai aku komposkan di keranjang takakura. Dengan demikian bibit kuanggap afkir itu lekas diproses oleh alam dan bermanfaat bagi kehidupan ini.

Tapi ada sebuah hari di mana aku tak lagi mengikuti saran-saran umum. Pada biji mahkota dewa yang kubibit, aku tidak pilih-pilih mana yang baik dan yang tidak.

Buah-buah mahkota dewa di rumahku, umumnya berkualitas bagus. Bila matang warnanya merah marun. Besar-besar dan segar. Aku dulu selalu memilih buah yang paling besar dan berpenampilan paling bagus untuk kucari bijinya, lantas kubibit. Tapi kemudian timbul pikiran bahwa yang jelek bahkan cacat pun harus tetap diberi kesempatan untuk hidup dan berkembang biak. Bukankah di dunia ini tak ada yang tanpa cela? Biarlah alam yang nantinya berkehendak, apa bibit itu bisa tumbuh dan berkembang menjadi tanaman yang sehat atau tidak.

Buah yang kecil dan agak gripis juga kuambil bijinya dan kusemai. Ternyata saat menjadi tanaman, bibit yang jelek tersebut tidak bermasalah dan berbuah lebat. Dengan kondisi tanah yang subur dan perawatan hati-hati, ia pun tumbuh dan berkembang dengan baik. Saat berbuah, baik pula adanya.

Nah, kenapa kita harus meremehkan yang cacat ataupun afkir?

Untuk masalah kecacatan, aku jadi ingat kawanku, Mas Fuad (http://www.cakfu.info/) yang difabel fisik, namun kuat secara mental. Fisik yang lemah, bagi dia bukan halangan untuk mencapai karya-karya gemilang. Gelar masternya dari Universitas Groningen, Belanda, misalnya, dia peroleh setelah menyisihkan ribuan pelamar di negeri ini untuk memperoleh beasiswa. Kini ia aktif dalam gerakan kampanye peduli kaum rentan.

Makhluk-makhluk di dunia ini memang memiliki aneka ragam kondisi. Ada yang perkasa secara fisik dan mental, ada yang fisiknya perakasa namun mentalnya tidak, ada yang mentalnya perkasa tapi fisiknya lemes sekali, ada pula yang lemes semuanya. Variasi ini tercipta agar kita semua bisa saling berbagi. Iklas menerima dan memberi. Tidak untuk saling mengalahkan satu sama lain demi kepentingan pribadi. (Alpha Savitri)

Tuesday, September 09, 2008

Genap Sebulan Aku Bertanam Padi

Hari ini aku memperingati sebulan membibit dan bertanam padi organik pandanwangi. Ini spesial buatku karena baru pertama kalinya aku menanam padi. Oh ya, dalam tulisan-tulisan sebelumnya telah kuceritakan, bibit-bibit yang bersemi itu akhirnya kutanam di tiga tempat. Pertama: di pot, kedua di karung, dan ketiga di petak mini kebun depan kantorku Pusdakota.

Yang di karung memuaskanku. Genap sebulan daunnya hijau segar, berujumlah 10 batang, sedangkan tinggi daunnya 32 cm.

Yang di petak mini juga segar-segar. Malah ada yang tinggi daunnya sampai 40 cm. Lebih 40 bayi padi yang kutanam, ada dua yang sampai saat ini pertumbuhannya lambat, entah kenapa. Mereka berdua masih belum besar-besar sebagaimana yang lain. Bahkan aku sempat deg-degan karena salah satunya kupikir hampir mati ketika dua dari tiga daunnya berwarna kuning. Namun hari ini kulihat ada daun baru yang kulihat tumbuh dan itu berwarna hijau segar. Doakan ya agar yang ini tumbuh sehat sebagaimana rekan-rekannya.

Sedangkan yang di pot, menurutku pertumbuhannya lambat. Daun terpanjangnya kini 24 cm dan helaiannya hanya tiga. Padahal sewaktu masih belum kupindah ke pot, benih itu tampak kukuh dan lebih sehat dibandingkan yang kutanam di karung. Kini kondisinya justru sebaliknya. Yang di karung lebih baik. Padahal dua bayi itu kuperlakukan sama kendati tempatnya berbeda. Setiap pagi dan sore kusiram dan lima hari sekali kuberi pupuk cair native microorganism (MOL). Tanah tempat tumbuh keduanya juga kusiangi dan kugemburkan hati-hati agar tidak merusak akar yang baru beradaptasi.

Apakah karena padi dalam pot setiap hari daunnya digoyang angin kencang sedangkan yang di karung tidak? Yang di karung memang dari segi tempat memungkinkan lebih tenang. Tidak banyak angin yang melintas.

Ah, ini kan rekaan secara akal sehat. Nggak tahu dari segi ilmiahnya bagaimana aku tunggu saja perkembangannya.

Untuk padi yang kutanam di lahan mini, aku tidak memberinya pupuk cair. Di sini aku memberi tanah tersebut kompos kotoran kambing beberapa hari sebelum bayi padi kupindah dari tempat pembibitan. Pernah sekali lahan mini tersebut kuberi urine dari toilet ecosan Pusdakota yang telah dinetralkan. Dua minggu lagi rencanaku akan kuberikan lagi urine pada tanah tersebut.

Kini yang jadi perhatianku adalah bagaimana agar nantinya, bila padi-padi itu berbulir (mudah-mudahan nggak ada aral melintang, ya nggak), nggak dipanen tikus ataupun burung. Sementara ini aku sudah bikin orang-orangan sawah. Tapi benarkah burung-burung bakal takut dengan orang-orangan sawah itu atau justru mereka menertawakan aku, pembuat orang-orangan itu?

Aku pun lantas membayangkan zaman dulu di saat semua makhluk saling tergantung. Tidak ada yang dianggap jahat dan harus diusir kalau ekosistemnya berjalan dengan baik. Pangan dan kebutuhan semua makhluk terpenuhi dengan baik. Inilah sesungguhnya tugas kita di zaman ini. Merawat dan memperbaiki yang telah rusak. (Alpha Savitri)

Sunday, September 07, 2008

Kisah Difabel Cerdas namun Tak Bisa Sekolah

Hasil karya Alfan (Gambar Kiri). Alfan (berbaju biru) dan kawan-kawan bersenang-senang di sekitar rumah (Gambar Kanan).
Ia Alfan. Usianya tujuh tahun. Kalau sekolah, pasti sudah kelas dua SD. Namun bocah berkulit putih ini tidak bisa mengenyam pendidikan formal sebagaimana anak seusianya. Ia memiliki pendengaran yang menurut ukuran banyak orang disebut tidak “normal” sehingga dianggap tidak pantas sekolah bersama anak-anak seusianya. Bagiku ini potret nyata perilaku diskriminasi atas kaum difabel. Kasus ini tidak sengaja kutemukan di Pasuruan pada saat aku terlibat dalam sebuah riset.
”Saya sudah berusaha untuk menyekolahkan Alfan. Saya datang ke banyak sekolah di sini. Tapi tidak ada yang mau menerima meskipun anak saya cerdas.,” kata Maryati, warga Pasuruan. Alfan yang duduk di sebelahku kini dipangkunya. Maryati pun mengusap dan mencium kepala si buah hati. Matanya berkaca-kaca.
Alfan seperti merasakan kesedihan Maryati. Matanya ikut berkaca-kaca.

Ya, Alfan bersedih. Padahal ia tak mendengar kata-kata kami. Ia tuna rungu. Karena tuna rungu, ia pun tidak pernah belajar berbicara. Kata-kata yang keluar tidak punya makna. Tapi, entahlah, mungkin perasaan Alfan sangat tajam sehingga tahu apa yang kami bicarakan.

Anak ini, kata Maryati, nasibnya selalu malang. ”Bahkan sejak dalam kandungan, ia selalu berusaha digugurkan ibunya. Ibunya minum jamu pahit-pahitan. Tidak berhasil, karena kandungannya terus membesar,” kata Maryati.

”Oh, jadi Alfan bukan anak ibu sendiri?” tanyaku.

”Ibu Alfan itu famili saya. Jadi bukan saya yang melahirkannya. Tapi Alfan buah hati saya.”

Maryati melanjutkan,”Saya kasihan nasib janin itu. Karunia Tuhan kok disia-siakan. Padahal alasannya sepele. Ibunya bilang, anaknya sudah dua. Repot kalau melahirkan lagi,” kata Maryati.

Maryati pun meminta si jabang bayi. Sejak dalam kandungan jadi tanggungannya. Padahal Maryati dan suaminya berkekurangan. Tapi mereka rela menanggung anak yang tidak diinginkan orangtuanya itu.

Maryati tidak berpikir, dengan hadirnya Alfan, ia dan Atim, suaminya harus bekerja semakin keras demi kelangsungan hidup bayi itu. Atim kerjanya hanya serabutan. Maryati sendiri juga sebagai pemungut sisa-sisa padi di sawah (ngasah). ”Tuhan maha besar. Kami tak takut miskin.”

Suami istri itu mengasuh bayi yang dinamainya Alfan itu dengan penuh kasih sayang. ”Alfan, saya tidak tahu arti nama itu, tapi nama itu enak didengar. Makanya, kami namai dia begitu,” ujar Maryati.

Kenapa Alfan tidak bisa mendengar, baik Maryati maupun Atim tidak tahu sebab persisnya. Atim memperkirakan, Alfan demikian karena dalam kandungan berusaha digugurkan dengan ramuan yang pahit-pahit.

Namun Maryati tidak sepakat. ”Sebelum usia setahun, responnya terhadap bunyi masih ada. ”Alfan begitu karena disuntik dokter pada usia setahun.Waktu itu ia demam,” ujar Maryati yang kini juga berprofesi sebagai tukang pijat.

Aku tidak tahu siapa yang benar. Tapi yang jelas, pendengaran Alfan memang tidak normal.

Siang itu juga, aku mengetes pendengarannya. Aku sengaja menjatuhkan buku tebal di lantai saat Alfan tidak melihat ke arahku. Ia menoleh ke arah buku yang dijatuhkan. Beberapa kali kuulangi, responnya sama. Aku merasa, Alfan sesungguhnya masih bisa disembuhkan.

”Dokter THT memang bilang, Alfan bisa sembuh. Tapi saya harus membeli alat bantu dengar senilai Rp 4 juta. Dari mana saya mendapatkannya?”

Karena merasa tidak mampu mendapatkan Rp 4 juta, pasangan ini berkonsultasi ke orang-orang pintar. ”Saya sudah ke mana-mana. Setiap Jumat legi, lidahnya juga saya kerok dengan emas seperti saran salah satu orang pintar. Tapi tidak ada hasil,” ujar Maryati Airmatanya hampir berlinang. Sepertinya ia malu kulihat demikian. Ia mengusap matanya dengan tangan.

Kata dokter pula, kemungkinan ada salah satu syaraf Alfan yang tidak normal. Yakni di bagian belakang leher. Saat Alfan tidur, Maryati sering berusaha memijat titik syaraf tersebut. Namun Alfan selalu kaget dan merasa kesakitan Maryati yang tidak tega lantas melepaskan pijatannya.

”Kami ingin anak lekas sembuh, tapi dengan cara apa?” katanya.

Kulit Alfan putih bersih. Rambutnya lurus hitam. Perawakannya sehat. ”Alfan suka minum susu. Biar mahal, saya berusaha agar ia tidak kurang gizi. Siapa tahu kalau gizinya bagus ia bisa mendengar,” kata Maryati.

Alfan dinyatakan lulus dari TK di Malang (sebelum pindah ke Pasuruan dua tahun lalu, Maryati dan keluarganya tinggal di Malang) dua tahun lalu. Menurut Maryati, anaknya bisa mengikuti semua mata pelajaran di TK. Kalau diminta menggambar oleh guru, Alfan selalu menjadi yang tercepat untuk menyelesaikan.

Alfan juga memiliki banyak kawan bermain. Tidak saja saat masih di Malang, namun juga di Sejo. Bukan Alfan yang mendatangi mereka, namun merekalah yang selalu bermain di rumahnya. Alfan seolah mengerti bahasa kawan-kawannya dan kawan-kawan pun memaklumi Alfan yang punya keterbatasan bicara dan mendengar.

Anak ini piawai menggambar. Ia menggambar apa saja. Mobil, rumah, robot, dan lain-lain. Imajinasinya lumayan tinggi. Kawan-kawan sebayanya bahkan banyak yang minta digambarkan sesuatu oleh Alfan. Alfan juga bisa menulis. Tapi membaca ia tidak bisa.

Sang ibu bertindak sebagai guru bagi Alfan. Ia menciptakan gerakan-gerakan yang mudah dipahami anaknya. Setiap malam sang ibu mendongeng. Macam-macam yang didongengkan. Komik-komik juga diceritakan. Alfan, meski tidak mendengar, tapi ibunya yakin, paham akan kisah-kisah itu. ”Karena Alfan itu cerdas. Hanya tidak punya alat bantu dengar,” kata sang ibu.

Kenapa Alfan tidak masuk SLB?

”Anak saya normal. Entah kapan saya bisa membelikan alat bantu dengar, tapi saya pasti bisa. Alfan akan kembali normal,” tegas Maryati. (Alpha Savitri)

Saturday, September 06, 2008

Rp 45 Juta untuk Kampung Zero Waste di Surabaya



Tamu dari Pemda NTT sedang melihat-lihat hasil karya kerajinan dari kemasan-kemasan bekas yang dibuat warga RT 3, RW 14, Rungkut Lor Surabaya





Akhirnya, jadi juga kampung RT 3, RW 14 Rungkut Lor Surabaya memenangi festival kampung bersih, hijau, dan sehat di Surabaya Green and Clean untuk kategori kampung maju. Itu artinya, dari seluruh RT yang masuk dalam kategori kampung maju di Surabaya, tahun ini, RT 3 yang paling unggul. Best of The Best, bagitu tulisan yang tertera di piagam penghargaan dan piala buat mereka. Penyelenggara lomba adalah PT Unilever Tbk didukung Jawa Pos.

Keharuan menyergapku saat beberapa hari lalu mereka, sekampung melakukan kirab piala dan berhenti di kantorku Pusdakota. Sebagian besar peserta kirab adalah para ibu. Tua muda tumplek blek jadi satu. Melampiaskan kebahagiaan lewat menari. Yang tua-tua kulihat lebih hot tariannya. Sepertinya nggak ingat suami, anak, dan cucu. Hmmm, biarlah begitu. Mereka berhak menikmati hasil kekompakan itu. Mereka berhak menikmati kemenangan. Kami sekantor memberi ucapan selamat pada mereka satu per satu. Kami memotret kemenangan mereka.
Kami juga merekamnya untuk jadi film.

Kampung itu, warganya memang luar biasa kompaknya. Mereka terilhami RT sebelah yang sudah memilah dan mengolah sampah sejak tahun 2000. Mereka akhirnya ikut melakukan kerja-kerja di bidang lingkungan. Tahun 2005 baru mulai, hasilnya sudah sedemikian fantastis dalam kurun hanya tiga tahun.

Banyak kampung yang baru berbenah bila ada lomba-lomba kebersihan. Seperti sulapan rasanya. Infrastruktur yang berhubungan dengan kebersihan dan penghijauan tiba-tiba ada pas juri datang. Dan ketika nggak ada lomba, ya kembali ke perilaku asal. Tapi kulihat warga kampung ini tidak seperti itu perilakunya. Ada atau nggak ada lomba mereka tetap melakukan perawatan lingkungan hidup.

Aku ingat, tahun 2004, saat aku masih jadi staf baru di Pusdakota, kampung yang menjadi tetangga kantor Pusdakota ini – penghuninya rata-rata berstrata menengah ke bawah -- kulihat nggak sedap dipandang mata. Rumah-rumah berdempetan. Tempat-tempat kos yang kecil-kecil berserakan. Selokan bau. CD dan BH usang bahkan tak malu-malu ditaruh di bagian depan jemuran di depan rumah. Tanaman pun cuma sebiji dua biji. Alasannya, mereka nggak punya lahan buat menanam. Wong gangnya saja, cuma bisa dilalui motor. Warga kost yang jumlahnya sampai 70 persen dari penduduk kampung menghuni kamar-kamar sempit.

Namun warga kampung mau berbenah. Mereka punya Rencana Strategis (Renstra Kampung), yakni perencanaan kampung untuk jangka panjang. Mereka taat dengan apa yang mereka rencanakan. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda dan pemudi, anak-anak, semuanya kompak bergotong royong melipatgandakan modal sosial kampung.

Aku sangat respek pada stamina mereka untuk membuat inovasi buat kampung. Sekarang nggak ada lagi BH dan CD yang nyantol di jemuran depan rumah atau kos-kosan. Kampung sempit itu membenahi tata ruangnya. Mural-mural yang berisi pesan lingkungan selalu hadir di tembok-tembok kosong.

Di bidang penghijauan, kampung ini memiliki jadwal pembibitan kolektif untuk tanaman obat keluarga (toga) dan tanaman hias. Tak heran kampung jadi hijau, semua rumah memiliki puluhan jenis tanaman dalam pot, kini mereka bahkan punya unit usaha kolektif di bidang tanaman dan pupuk. Siapa yang beli? Para pemilik stan bunga di pasar bunga Bratang. Juga, tamu-tamu yang datang ke kampung ini. Ya, banyak sekali tamu yang berkunjung ke kampung ini untuk studi banding. Mereka tak cuma dari Surabaya, namun juga kota-kota lain termasuk mancanegara. Para mitra kantorku Pusdakota, dari mana pun kalau datang ke Pusdakota, juga ingin datang pula ke kampung ini. Dan, rata-rata mereka beli tanaman.

Selain tanaman, para tamu juga seringkali membeli hasil karya daur ulang plastik bekas pakai ibu-ibu. Bisa tas, dompet, taplak dan sebagainya. Sekali waktu ada pula tamu yang berdonasi.

Sejak dua bulan lalu, RT 3 sudah zero waste. Mereka memang tidak biasa melafalkan slogan reduce, reuse, dan recycle karena lidah tak terbiasa berbahasa Inggris. Namun mereka menjalankan prinsip-prinsipnya. Tidak ada lagi sampah yang dibuang, baik di TPS apalagi di TPA. Bagi yang punya keranjang takakura, sampah dapur diolah di keranjang takakura. Untuk yang tidak memiliki keranjang takakura – terutama warga kos-kosan – memilah sampah organik dan anorganik. Semua sampah anorganik dikelola karangtaruna setempat. Sampah organik diolah di Graha Kompos Pusdakota.

Kampung ini memiliki peraturan tak tertulis yang ditaati warga: sampah harus dipilah. Monitoring kader lingkungan atas kesempurnaan hasil pilahan sampah pada warga, berjalan dengan baik. Ember-ember tempat sampah memiliki nomor. Siapa yang tidak sempurna memilah sampah akan ketahuan. Tukang sampah mencatat dan laporannya masuk ketua RT. Bila ada yang bandel tidak memilah meski telah diperingatkan, ia akan sulit mengurus surat-surat. Untunglah nggak sampai ada kasus seperti itu.

Di bidang sanitasi pun warga kampung ini lumayan bagus kerjaannya. Sejak dua tahun lalu, ibu-ibu di kampung ini membuat bakteri cair, mikroorganisme lokal (MOL) dengan bahan-bahan murah dan sederhana. Semua rumah di kampung ini menuangkan bakteri cair tersebut, di tempat cuci piring, WC, wastafel, dan sebagainya sehingga bau nggak enak di tempat-tempat pembuangan air rumah tangga bisa diselesaikan. Got-got pun sekali waktu dituangi bakteri cair mereka.

Kampung ini memiliki model water treatment berupa pengelolaan air sumur yang tercemar (berbau bangir dan berwarna kuning kecoklatan). Sumur dikelola sedemikian rupa dengan bahan-bahan sederhana macam ijuk dan arang sehingga air sumur tersebut jadi ”siap pakai”.

Sementara mereka juga memiliki model water treatment untuk selokan yang berbatasan dengan kampung lain lewat sekat-sekat sederhana dan pemberian bakteri cair.

Ya, kurasa, mereka pantas menjadi juara. Berapa hadiahnya? Rp 45 juta. Bisa dibayangkan, kampung itu memperoleh Rp 45 juta. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, apa yang mereka perbuat dengan uang yang relatif banyak itu, nantinya? Lain orang sudah pasti lain usulannya. Aku berharap mereka bisa memaknai hasil kerja keras mereka secara bijak dan menggunakan dana itu dengan cara bijak pula untuk pengembangan kampung. Ini saatnya, kampung itu diuji lewat hadiah uang yang relatif besar. Semoga kampung itu lulus ujian: Menggunakan secara bijak dana yang diperoleh dan semakin solid. (Alpha Savitri)

Friday, September 05, 2008

Mata Air Dewa-dewi

Sumber air pasti akan cukup untuk manusia
selama manusia tidak rakus.
(Mahatma Gandhi)

Mata air dewa-dewi. Itu sebutanku. Sumber itu letaknya tersembunyi, di sebuah wilayah di Lumajang, di kaki Gunung Semeru. Untuk sampai ke tempat yang memiliki beragam rupa air terjun menawan tersebut, aku mesti menuruni jalan setapak, melewati deretan kebun salak yang sangat rimbun. Air di situ melimpah, menyegarkan, dan bisa diminum langsung. Kalau berenang di kolam-kolam alami di situ, badan ini jadi sangat bugar. Ikan-ikan, udang, dan spesies air lainnya masih sangat melimpah. Serangga-serangga dan tanaman di sekitarnya, terutama pakis sangat beraneka.

Aku mengenal sumber mata air itu dari seorang kawan mainku, Ratih Anggrahesti yang memiliki rumah di wilayah itu. Sejak kenal pertama beberapa waktu lalu, aku pasti menyempatkan diri ke sana, beberapa bulan sekali. Sehari dua hari cuti hanya untuk mandi, berenang, minum, dan meditasi, pikiran ini jernih kembali. Kalau nggak ke sana agak lama, rasanya mata air itu memanggil-manggilku. Sudah terlanjur cinta sih. Di sini, aku juga menyertakan fotoku pas berenang. Dipotret Ratih pake kamera yang ada di HP.

Selalu, Tak ada yang menggangguku saat berenang dan mandi. Tak ada yang memelototi tubuhku. Orang yang lewat pastilah penduduk setempat dan mereka satu dua saja. Itu pun kalau pagi sekali. Bahkan kini mereka mengenalku. Bila aku turun ke mata air agak siang sedikit, sekitar pukul 7.30, misalnya, tidak ada seorang pun di situ.

Aku nggak pernah takut sendirian. Aku juga nggak pernah takut diperkosa di situ, kendati sepi. Bahkan kalau ingin berenang telanjang, telanjang saja. Nggak akan ada yang ngeliat, kecuali spesies-spesies setempat.

Keluarga Ratih dan para tetangganya beruntung memiliki kekayaan alam kolektif yang melimpah. Tanah subur, hewan-hewan liar termasuk kera, aneka spesies tanaman, juga sumber air yang melimpah. Ini luar biasa dan warga setempat mestinya bisa menghargai dan melakukan konservasi atas potensi yang luar biasa ini demi kemaslahatan mereka bersama.

Saat berenang-renang di kolam-kolam alami tersebut, saat berada di bawah air terjun kecil-kecil, saat memandikan kepalaku di pancuran di atasku, aku bertanya-tanya, apakah sepuluh, dua puluh, atau empat puluh tahun ke depan mata air ini masih alami? Apakah penduduk setempat masih menjadi tuan dan nyonya atas mata airnya sendiri? Dalam hati aku diliputi kekhawatiran, mata air ini akan jatuh ke tangan pengusaha-pengusaha air minum. Jangan-jangan mereka nanti harus bayar ke pengusaha air, bahkan untuk air minum yang diambil dari desa mereka ini.

Ya, sumber-sumber air di negeri ini dari tahun ke tahun memang terus menyusut dan kotor kena limbah. Tak cuma itu, warga di sekitar sumber air seringkali telah kehilangan hak kolektif untuk mengelolanya.

Wilayah ini masih tersembunyi dan belum disentuh iklim pariwisata sekalipun potensi untuk ini sangat besar. Namun aku bisa memastikan, tak lama lagi banyak orang terkesan dengan wilayah yang indah dengan penduduk ramah dan memiliki beraneka budaya dan agama ini. Sebagaimana aku yang sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama. Dalam hati aku berkata, kalau nantinya iklim pariwisata menghampiri tempat ini, semoga pariwisatanya bersifat budaya dan spiritual. Sehingga, sumber alam dan budaya yang melimpah di wilayah ini tetap terjaga utuh. Dan semua mata air di situ pun akan selamat.

Kini aku mulai ngompori Ratih untuk lebih dalam berpikir tentang desanya, kendati ia sehari-hari hidup di Surabaya. Dari mata air dewa dewi itu Ratih dan moyangnya berasal.

”Kamu harus bangga dengan desamu yang punya mata air dewa-dewi. Jangan lupakan sejarahmu, Tih. ,” ujarku terus-menerus. Sampai sekarang aku terus ngompori agar ia beraksi demi desanya. (Alpha Savitri)

Anak-anak Muda Berjuang menuju Organic Life

Aku punya kawan-kawan, anak muda idealis, cinta lingkungan, mau bekerja keras mewujudkan idealismenya, dan mau melakukan hal-hal kecil. Sari, Harti, Heri, Anton, Wajib, Bangkit, Ucup. Usianya 18 sampai 25. Mereka menamakan diri anak-anak Carpedi dan digembleng Pusdakota. Bergaul dengan mereka selalu membuat aku kembali bertenaga.

Wajib, bangkit, dan Ucup mengelola sampah menjadi kompos dan melakukan kampanye kesadaran lingkungan di dekat rumah mereka masing-masing. Heri dan Anton mengorganisasikan para petani untuk berpindah dari metode bertani konvensional non organik ke metode pertanian organik.

Mereka memasarkan hasil pertanian organik dari para petani, merancang desain yang sesuai dengan prinsip-prinsip fair trade agar para petani tidak dirugikan. Di tengah waktu luangnya yang sempit, mereka sempat menanam padi. Sedangkan Sari dan Harti menjadi garda depan pemasaran produk-produk organik yang dihasilkan para petani, baik itu beras, kedelai, kacang tanah, dll. Oh ya, mereka sekali waktu pergi bareng-bareng naik pick up ke berbagai wilayah di Surabaya untuk berjualan pecel organik dan produk-produk organik lainnya. Pendeknya, mereka tak pernah lelah menabur karya di bidang lingkungan.

Rasanya, lewat blog ini aku pengen juga mengkampanyekan produk-produk organik mereka. Dan produk-produk organik yang telah sampai ke pelanggan pasti disertai kontrol kualitas yang ketat. Ini produk-produk organik tersebut:

- Beras Menthik Rp 9000
- Beras Pandanwangi Rp 8500
- Kacang Tanah Rp 15000 per kg
- Kacang Hijau Rp 11000 per kg
- Beras Merah Rp 10000 per kg
- Kedelai Rp 12000 per kg
- Keranjang Kompos Takakura Rp 90000

Di samping itu mereka juga menyediakan produk-produk lain semisal kunir instan, jahe instan, rosela.

Bisa kita lihat harga yang tertera. Lebih murah ketimbang harga hasil-hasil organik di pasaran pada umumnya, bukan, bukan? Harga di atas sudah menguntungkan semua pihak, terutama petani.

Aku sendiri merupakan pelanggan fanatik mereka untuk beras organik dan kedelai. Di samping sehat, beras organik itu sangat lezat di lidah dan mengundang selera makan. Untuk kedelai, aku juga ambil dari mereka karena saat ini sulit sekali menemukan kedelai lokal di pasaran Surabaya. Aku sedapat mungkin menghindari kedelai impor karena kebanyakan sudah melalui rekayasa genetika. (Alpha Savitri)

Tuesday, September 02, 2008

Mengepal Itu Nggak Mudah

Mengepal bibit merupakan selingan yang kusukai saat jenuh di kantor. Kawan-kawanku pun menyukai selingan ini. Pada sore hari, kadang tanpa sengaja kami dari berbagai divisi ngumpul bareng di tempat pembibitan sayur di kebun depan Pusdakota. Tangan-tangan ini terasa gatal untuk mengepal.

Sore tadi aku ke kebun depan kantor untuk mencari hawa segar sejenak. Aku barusan menerima tamu, para pemikir. He.. he..he.. Topiknya agak serius sehingga pikiran ini perlu refreshing. Sampai di kebun, kulihat kawanku Mas Gun sedang mengepal bibit sawi. Aku segera menghampiri dan membantunya. Belum lama aku di situ, anak-anak yang biasa main-main di Pendopo Pusdakota datang. Mereka pun nimbrung ikut mengepal. Tapi karena baru pertama kali melakukan, hasilnya belepotan. Tapi namanya saja inisiatif sambil belajar, ya kuapresiasi. Foto-foto mereka ku-upload juga di sini. Lihat, mereka tampak bersemangat mengerjakannya.

Memindah bibit sayur yang telah berusia dua minggu untuk dikepal-kepalkan di tangan itu nggak mudah. Kelihatannya sih hanya tinggal menaruh tanah di dalam tangan kita, lantas helaian bibit sayur yang telah bersemi kita pindahkan di situ dan kita kepal-kepal. Kita tunggu sampai beberapa hari untuk kemudian dipindah di lahan.

Tidak semua hasil kepalan bagus bila dipindah di lahan. Salah sedikit dalam mengepal, sayuran tidak berkembang dengan baik. Makanya, aku super hati-hati untukmelakukan. Takut kalau pertumbuhannya nggak bisa bagus.

Aku jadi ingat pengalamanku membibit kali pertama. Hanya mengepal satu bibit saja, sulitnya setengah mati. Hasilnya nggak begitu lurus dan lama sekali melakukannya. Beda dengan sekarang. Hasilnya lebih bagus dipandang dan kalau dipindah di lahan, pertumbuhannya kemungkinan besar bagus. Mengepal yang bagus itu butuh pengalaman. Semakin tinggi jam terbang, semakin hasilnya bagus.

Aku memercayai juga teori tentang pH tanah yang bagus untuk tanaman sehingga jenis tanah, apakah liat, berpasir, atau sedang cukup berpengaruh terhadap pertumbuhannya. Aku juga percaya bahwa tanaman sayuran pada umumnya perlu sinar yang cukup banyak. Aku juga tahu bahwa pengepalan antara lain sebagai sarana adaptasi dari tempat persemaian ke lahan.

Tapi, di atas teori-teori pertanian seperti itu, bagiku ketelatenan dan perasaan juga harus dinomorsatukan. Semakin tidak telaten, hasilnya semakin acak-acakan. Perasaan juga diperlukan. Percaya atau nggak, tanaman itu makhluk hidup yang perlu sentuhan pas agar ia bisa tumbuh dan berkembang dengan bagus. Sejak di tempat persemaian, tanaman harus kita perlakukan sebagai sahabat kita. Kita akan merasa sakit kalau sahabat kita sakit dan kita akan merasa senang kalau sahabat kita senang, bukan? Tanamanku di rumah misalnya, yang tidak begitu kuperhatikan, pertumbuhannya tidak sebaik yang kuperhatikan dan kucermati.

Perlakukan semua makhluk sebagai sahabatmu, maka mereka akan berterima kasih padamu, begitu kira-kira pesan bijak yang kutangkap sesorean ini. (Alpha Savitri)

Monday, September 01, 2008

Aku Ingat Takakura San

Malam ini aku mengingat Takakura San. Aku ingat rambutnya, matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya. Aku ingat kepintarannya dan kerendahatiannya. Aku ingat sikap-sikap humanisnya. Terima kasih Tuhan, kau membuatku kenal dengannya. Kau membuatku mampu menangkap saripati keindahannya. Semoga kebaikan yang melimpah padanya mengalir ke jiwaku.

Oh ya, Takakura San itu pernah mengasisteni tim dari kantorku Pusdakota untuk riset teknologi pengomposan skala rumah tangga yang kini dikenal dengan Keranjang Takakura pada tahun 2005. Usai proyek riset tersebut, beberapa proyek lain dengan kantorku susul-menyusul. Jadilah dia sering terbang dari kediamannya di Kitakyusu Jepang ke Surabaya.

Kuhitung, sudah satu setengah tahun ini Takakura San nggak lagi datang ke kantorku. Hanya partnernya, Tetsuya Ishida San yang masih sering datang karena ia memiliki beberapa kerjasama dengan pemerintah Kota Surabaya dan kalau ke Surabaya pasti mampir ke Pusdakota. Menurut Ishida San, kopi Pusdakota ngangeni. Kedatangan Ishida San seringkali jadi penghibur kami. Tapi terasa kurang karena biasanya mereka datang bersama, kini nggak lagi. Ishida San hanya ditemani Mbak Vinsa, interpreter yang punya kapabilitas luar biasa, menurutku.

Takakura San terus-menerus datang dalam ingatanku malam ini. Aku ingat, sekali waktu ke Surabaya, lantas ke kantorku, memberikan hadiah sepasang mikroskop. Katanya, itu mikroskop kesayangannya dan kesayangan istrinya. Kata Pak Takakura, baik mikroskopnya maupun mikroskop istrinya tersebut dibeli pas mereka belum nikah, bahkan belum kenal satu sama lain. kala sudah menikah mereka tahu memiliki mikroskop yang sama. Ya, begitulah mungkin kalau sudah jodoh. Dan sepasang mikroskop yang sama dan sebangun itu diberikannya pada Pusdakota karena ia tahu anak-anak kampung yang biasa datang ke Pusdakota untuk belajar pasti memerlukannya. Agung sekali pemikiran Takakura San. Kini, mikroskop itu memang sangat bermanfaat. Devi kawanku, membimbing anak-anak anggota perpustakaan Pusdakota untuk mengenal mikroskop dan fungsi-fungsinya.

Aku juga ingat sebuah kejadian. Takakura San mahir mempraktikkan pijat refleksi. Ia menyentuhkan kayu serupa pensil ke beberapa titik di sekitar kaki atau tangan pasiennya. Seringkali satu atau dua titik yang disentuh akan terasa sangat sakit. Aku pernah menjerit-jerit kesakitan saat ia menyentuhkan kayunya pada salah satu titik di kakiku. Langsung ia bilang kalau kandunganku sakit. Waktu itu aku nggak percaya. Ternyata, dia benar. karena belum lama ini aku operasi untuk mengangkat myoma dalam kandunganku. Kepiawaiannya dalam hal pijat-memijat ditulari sang istri. ”Istri saya tangannya sangat menyembuhkan. Banyak orang yang minta bantuannya kalau sakit. Menurut istri saya, saya masih kasar kalau emegang pasien,” katanya.

Tidak cuma kami di Pusdakota yang terkesan dengannnya. Komunitas di sekitar kantor kami juga terkesan dengan sikap hangatnya. Bila datang ke Pusdakota, Takakura San berdua dengan Ishida San, memang selalu menyempatkan diri datang ke kampung Rungkut, melihat-lihat keranjang Takakura yang dipakai warga. Sesekali pula keduanya mengantar para tamu asing yang besertanya, termasuk wartawan koran kenamaan Asahi Shimbun yang ingin meliput partisipasi warga RW 14 Rungkut Lor Surabaya di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Warga Rungkut Lor, dengan senang hati menerimanya, terutama kaum ibu. Ibu-ibu ini pasti minta kupotret bareng Takakura San dan Ishida San.

Ingatanku lantas berputar ke makan siang bareng yang selalu diselenggarakan Pusdakota untuk para stafnya. Takakura San yang kelahiran 27 April 1959 ini tak pernah menampik makanan apa pun. Bahkan yang pedas pun ia mau. ”Semuanya enak. Tapi saya paling suka kopi yang disajikan. Enak sekali,” ujarnya dalam bahasa Jepang. Ia memang penyuka kopi tanpa gula yang diminum dalam keadaan panas. Kalau sedang senggang di Pusdakota, misalnya, ia juga sering memasak di dapur kantor lembaga ini. Masakan khasnya yang disukai staf Pusdakota adalah semacam kare ayam berbumbu kental dan mie. Semua bumbu yang dipakai adalah hasil improvisasinya.

Takakura San memang piawai mengelola hubungan interpersonal dengan siapa pun. Aku pernah mewawancarainya untuk sebuah majalah dan menanyakan apa sih rahasianya sehingga ia bisa bergaul dengan siapa pun. Ternyata, lulusan Himeji Institute of Technology jurusan kimia terapan ini memang gemar berorganisasi. Kini dia juga mengaktivasi kegiatan voluntary di bidang lingkungan hidup lewat kegiatan advisory-nya.

Sewaktu mahasiswa, tenaga ahli di perusahaan G-Power Jepang ini juga dikenal sebagai aktivis kegiatan kampus. Tugasnya sebagai aktivis mahasiswa, antara lain juga merancang kegiatan-kegiatan kampus yang bersifat kemasyarakatan agar lebih menarik. ”Sama seperti yang dilakukan Pusdakota untuk komunitas,” katanya.

Takakura San benar-benar jadi inspirasiku untuk terus menampilkan ketulusan dan karya-karya terbaik sepanjang hayat. *vit

Selamat Siang Pak Tani

Meskipun belum sebulan menanam padi, baik di pot maupun di sepetak kecil tanah di kebun kantorku Pusdakota, namun aku sudah khawatir tentang tikus atau burung yang nantinya bisa saja berebut untuk memakan biji-biji padi itu (bila padiku tumbuh bagus, sih). Soalnya, kala pagi, begitu banyak burung yang mampir di kebun Pusdakota yang menyejukkan untuk cari makan. Tikus yang besar-besar pun tak jarang kulihat di lahan (termasuk ular).

Tugasku banyak demi menyelamatkan padi. Misalnya, membuat barikade agar selamat dari dua binatang itu. Tapi itu nanti saja karena untuk itu aku memerlukan bahan dan alat yang kini belum kupunyai. Yang bisa kukerjakan duluan aku kerjakan, yakni membuat orang-orangan sawah.

Aku pun membuat orang-orangan sawah apa adanya dari barang-barang bekas pakai yang ada di kantorku, yakni plastik-plastik, bambu-bambu, jaket usang, tali rafia bekas pakai, kawat yang sudah teyengan. Oh ya, aku juga melengkapinya dengan topi bundar yang biasa dipakai pak tani kalau lagi ke swah. Pokoknya semuanya dari barang bekas.

Aku membuatnya dalam waktu cukup singkat. Cuma setengah jam. Wah, hebat juga, aku, pekikku dalam hati, agak narsis. Orang-orangan pun kupasang di petakku dan kuikat dengan kawat di tiang agar tidak terbawa angin. Kawanku, Mas Ade yang melihat pak tani jadi-jadian tersebut langsung nyeletuk,” Wah, Mbak, burung di kota itu IQ-nya tinggi. Indeks Prestasinya 3,94. Mereka pasti ketawa terkekeh-kekeh liat orang-oranganmu,” ujarnya. Aku ikut tertawa dan berpikir, jangan-jangan iya. IP mereka 3,94. Iya, ya, benar juga. Tapi nggak apa-apalah. Namanya juga usaha.
Mas Koko, kawanku yang lain, jauh lebih dahsyat komentarnya. "Mbak Vitri nggak usah kerja di kantor. Kerja saja di dekat petak padi ini. Nanti saya sediakan meja untuk naruh laptop. Jadi kalau ada burung, langsung bisa diusir," katanya. "Hmmm, kata-katamu itu nggak cocok dengan wajah bijakmu, Mas," ujarku.
Nggak tahulah, kenapa pas aku sudah selesai pasang orang-orangan, banyak kawan yang berdatangan ke dekat petak sawah itu. (Kok nggak tadi sih, saat aku pas sibuk-sibuknya). Jadinya, lingkungan dekat petak padiku persis arena meeting. Kerjaan ditinggal sampai lamaaa, sekali. (he, he, he, bisa puyeng bos kantorku kalau pada saat jam kerja, para staf sering duduk-duduk dan ngobrol ngalor-ngidul. Tapi yang ini di luar kebiasaan, kok. Sungguuuuuhhhh. Cuma sekali itu).
Saat menyiram tanah tempat tinggal padi tidak lama setelah orang-orangan tersebut kuberdirikan dengan gagah, aku terbayang, sebaiknya orang-orangan tersebut tidak sekadar orang-orangan. Dia harus bisa menjadi penyampai pesan. Dia kuibaratkan petani. Tapi bukan petani yang nggak ngerti apa-apa. Dia bukan petani yang mudah dibohongi. Ya, dia itu petani pintar. Dia melakukan perjuangan untuk melepaskan para petani negeri ini dari ketertindasan.

Aku lantas ingat tentang headline kompas hari ini: Indonesia Masuk ”Perangkap Pangan”. Judul yang cukup provokatif. Dan isi beritanya, lebih provokatif lagi karena disertai data-data yang kuat. Intinya, tujuh komoditas pangan utama non beras yang kini dikonsumsi masyarakat sangat tergantung pada impor.”

Memang, untuk urusan makanan pokok, kapitalisme global telah memerangkap kita mulai dari hulu sampai hilir. Benih, pupuk, pestisida, mereka yang kuasai. Industri pengolahan makanan, mereka juga yang berjaya. Lantas mereka pun menguasai sektor hilir lewat hypermarketnya. Petani kita cuma buruh. Pemerintah kita juga bisa diperintah sekehendak hati.

Orang-orangan yang kutancapkan tadi harus bercerita tentang itu semua. Aku pun lantas menempelkan koran Kompas yang memuat grafik-grafik dan diagram tentang kerawanan pangan di negara kita pada sehelai karton bekas. Grafik-grafik tersebut sangat provokatif menurutku. Aku melapisinya dengan plastik agar nggak cepat lapuk oleh panas dan hujan. Setelah ujung-ujungnya kupasangi tali, aku mengalungkannya ke orang-orangan sawah itu. Selamat siang, pak tani yang berdaya,” ujarku saat mengalungkan pesan tentang kerawanan pangan itu di lehernya. (Alpha Savitri)