Showing posts with label Wana Patria. Show all posts
Showing posts with label Wana Patria. Show all posts

Monday, August 25, 2008

Artikelnya Iman

Artikel tentang Wahana Bina Patria (Wana Patria) ini ditulis Iman D Nugroho dan dimuat di The Jakarta Post. Iman itu jurnalis di The Jakarta Post. Dia kawan lamaku pas aku jadi jurnalis di sebuah tabloid. Waktu Grand Launching Wana Patria pada 23 Juli 2007 lalu, dia telepon aku dengan formal,” Mbak Vitri, aku dapat penugasan untuk meliput Wana Patria.” Aku tertawa dalam hati. AKu tahu dia Iman tapi dia nggak tahu yang ditelepon adalah kawannya juga. Aku pun lantas menjawab secara formal,” Silakan, Mas, nanti kita ketemu di sana. Perkenalkan, saya Vitri.” Setelah ketemu, dia hanya bisa bilang,” Wah.. wah.. wah..” Kepalanya yang bulat digeleng-gelengkannya. Ini artikelnya:
Environmental Awareness Project: Blitar, East Java

A new effort is underway in Blitar, East Java, to improve the environmental awareness of residents through an environmental teaching project called Rumah Belajar Kearifan Lingkungan.
Spearheaded by the Yosep Foundation and the Urban Community Empowerment Center (Pusdakota) at Surabaya University, the facility, officially inaugurated on July 23, is envisioned as a place where people from all walks of life can come and learn about the environment.
The project has existed in embryonic form since 2005, when the idea was first proposed for establishing an environmentally based program.
At the time, however, there were not enough qualified people to get the project off the ground.
Pusdakota, which is concerned with similar issues, revived the idea.
“We discussed the matter with Pusdakota and we both agreed to realize the program,” Yosep Foundation chairwoman Sister Anastasia said.
They conducted in-depth studies and ultimately found a location for the facility, at the Santa Maria Catholic elementary school in Blitar. The school, founded in 1927, was chosen because it has sufficient land. “There is a 1.5 hectare park at our disposal,” said Anastasia.It took Pusdakota two years to get Rumah Belajar Kearifan Lingkungan launched.
Under the shade of some trees, beyond the Catholic school, sit a new compost and waste management building, areas for organic farm cultivation and livestock breeding, as well as facilities for outdoor activities.
Several older trees in the area were removed because they were at risk of toppling, and were replaced by a lawn and plots for cultivating plants. The facility is seen as an opportunity to bring a new level of environmental awareness to the people of the city. “The older generation in Blitar is less aware of the environment, that’s why the only hope we have is the younger generation,” Blitar Mayor Djarot Saiful Hidayat said.

Djarot believes the amount of waste produced by the city can be cut in half if residents implement waste management programs like the ones taught at the new facility. “Conditions could gradually improve in the long run because the younger generation will grow up to be adults who are aware of the environment,” he said.

The city has attempted to introduce environmental issues into local schools but has had little success, partly due to the inflexibility of the education system.
Pusdakota vice director Nila Mardiana said the group introduced a program to state-run schools in Surabaya but it was not well received by those in the education bureaucracy. “Unfortunately, the schools lacked the commitment to continue with the program after we left,” said Nila, adding that a fresh mind-set is key to introducing environmentally based education to students.
Santa Maria principal Sister Elfrida said the school had introduced environmental education even before the arrival of the new facility. “It’s actually simple … we will ask the students to go to the park to learn about flowers, the soil and other things during biology lessons,” she said.
Some students may initially shun the lessons, she said, but eventually they will learn to appreciate the “wonders” of nature. “I’ve seen a student quietly plant a seed in the garden in front of the class. He watered the seed every day until it finally sprouted. It’s simple yet something which we can be proud of,” Elfrida said.

Saturday, August 23, 2008

Menanam dengan Hati


Apa pun yang ditanam oleh kawan-kawan tim Wahana Bina Patria (Wana Patria) Blitar pasti tumbuh subur, entah itu sayuran, tanaman hias, ataupun buah-buahan. Bahkan Kota Blitar yang kata orang-orang pertanian, tidak bagus untuk bertanam sayur semacam bunga kol, kailan dan wortel, ketiganya justru tumbuh subur di Wana Patria, baik di musim hujan maupun musim kemarau.

Wortel Wana Patria, kata pelanggan sayuran organik yang fanatik dengan sayur-sayuran yang dihasilkan rumah Belajar Kearifan Lingkungan di Blitar tersebut manis dan gurih. Lebih berasa daripada wortel yang dibeli di pasar. Baik yang besar maupun yang kecil, wortel-wortel tersebut langsung ludes bila Wana Patria mengumumkan panen wortel.

Kailan Wana Patria pun punya kualitas yang tidak kalah dengan kailan yang dihasilkan di daerah dingin. Aku sangat fanatik dengan kailannya Wana Patria. Rasanya kremes-kremes dan kalau dimasak tidak cepat layu. Aku paling suka kalau Kailan dipotong tipis-tipis, digule. Lebih-lebih kalau yang masak Mbak Tantri, istri Pak Alex. Suami istri ini sama sepertiku, menjadi simpatisan dan relawan di rumah belajar ini. Makanya, kalau pulang ke Surabaya aku pasti bawa kailan. (Hee… nggak kailan tok, yang kubawa. Aku biasanya juga memboyong sawi daging putih dan hijau).

Aku jadi ingat. Pernah aku melayani pembeli sayur yang ingin beli kangkung. Ini kali pertama dia ke Wana Patria. Dia tanya harga dan aku menyebutkan.

“Lo, Mbak, kok lebih mahal dari harga di pasar,” katanya. Kubilang, nanti kalau harga sayur di pasar naik, harga sayur di Wana Patria nggak ikut naik. Aku jelaskan pula kalau sayur yang ditanam secara organik, di samping sehat, awet, juga enak di lidah.

Dia menyatakan ingin membeli sayuran dua kilo. Jenisnya bervariasi.

“Kok banyak sekali, Pak?” tanyaku.

“Ya, keluarga saya suka sayuran,” jawabnya.

Beberapa bulan kemudian, pas aku ke Blitar, bertemu dengannya. Rupanya dia sekarang jadi penggemar fanatik sayuran organik. Dia bilang,” Wah, Mbak benar juga. Meskipun harga sayuran di pasar naik banyak, sayur di Wana Patria nggak ikut naik. Rasanya juga kremes-kremes seperti yang Mbak bilang. Kalau dimasak, nggak cepat layu. Beli sedikit saja sudah cukup buat keluarga saya. Kami jadi kecanduan,” katanya.

Oh ya, aku pernah bertanya pada Mas Albert, penanggung jawab kebun sayuran Wana Patria. Apa sih resepnya hingga sayur mayur di Wana Patria, satu pohonnya sangat berat. Bahkan ada yang beratnya sekilo segala.

Apa jawabnya?
Cuma senyum dan bilang,” Menanam sayur harus dengan hati agar hasilnya baik.”

Ya, untuk terjun di bidang pangan organik, yang perlu kita siapkan, mungkin, pikiran yang organik pula, ya, Mas. Pikiran yang selaras dengan keinginan alam semesta. Pikiran yang bersih, sesuai dengan kata hati. Kalau sudah begitu, kita selalu ingin berbuat yang terbaik. Apa pun kita lakukan. tangan kita pun jadi dingin. Dan tanaman apa pun yang kita tanam pasti tumbuh dan berkembang dengan baik. (Alpha Savitri) *





Saudara-saudaraku, Bidan Wana Patria Blitar


Foto di atas merupakan lahan Wahana Bina Patria (Wana Patria) pada masa awal-awal penggarapan. Sampai kini konsep mandala pada lahan tetap dipertahankan.


Wahana Bina Patria biasa disingkat Wana Patria. Kok masih terlalu panjang ya, biar sudah disingkat? Karena masih juga terlalu panjang, kami singkat lagi jadi WP atau Wana untuk sebutan lisan. Kalau sebutan tertulis, tetap saja ditulis Wahana Bina Patria atau Wana Patria.

Wana Patria merupakan rumah belajar kearifan lingkungan di Kota Blitar yang digagas tahun 2005 tapi baru diperkenalkan ke publik tahun 2007. Bidannya adalah Suster Stefani SSpS dan Mas Cahyo Suryanto, kolegaku di Pusdakota, juga Mas Eddy Suhermanto, yang biasa kupanggil Mas Tanto. Ini memang kesepakatan antardua lembaga. Sr Stefani SSpS – kini bertugas di Roma – menginginkan agar lahan SSpS di kota Blitar seluas kurang lebih 2 hektar (satu kompleks dengan Biara Roh Kudus dan TK/SDK Santa Maria Blitar) didayagunakan. Biara di Blitar menurut Sr. Stephani sangat bersejarah bagi SSpS karena kesejarahan pertama SSpS Provinsi Jawa ya di Blitar. Visi lingkungan hidup pada waktu itu sudah ditanamkan di sana dan alangkah baiknya bila ada revitalisasi visi itu kembali. Dia pun berdiskusi dengan Mas Cahyo. Kami dari Pusdakota pun mewujudkan visi lingkungan hidup yang mulia itu.

Aku dan beberapa kawan lain ikut juga jadi relawan kelahiran si jabang bayi. Aku mendokumentasikan semua hal yang berkaitan dengan sejarah kelahirannya. Maka dari itu, mulai rapat-rapat, perdebatan-perdebatan, pembangunan dll aku ikuti dan kudokumentasikan (sayangnya ada beberapa catatan penting yang hilang akibat virus di komputer).

Kini Wana Patria boleh dikata mulai jadi rujukan pembelajaran kearifan lingkungan. Kendati di bawah naungan lembaga keagamaan, Wana Patria terbuka untuk umum dan berdiri di atas semua golongan.

Wana Patria menciptakan model pertanian organik dan budidaya sayur organik, pembuatan pupuk organik, peternakan organik dan representatif untuk berbagai training yang bersifat lingkungan. Tak heran, semakin banyak saja permintaan untuk jadi fasilitator training.

Kalau ingat semua yang pernah dilakukan semua pihak untuk Wana Patria sampai Wana Patria jadi seperti sekarang, terkadang aku merasa bersyukur. Aku nggak suka berkata yang ndakik-ndakik untuk mengucap syukurku. Tapi sungguh, bisa terlibat, kusyukuri. Ini anugerah. karena dengan begitu aku bisa belajar bagaimana dekat dengan alam perbuatan yang kita lakoni sehari-hari.

Aku bersyukur karena bisa menemukan mutiara dari Tuhan. Lahan yang inspiratif, kerja yang inspiratif, dan kawan-kawan yang terbiasa merawat bumi lewat keseharian mereka. Mereka berkarya nyata untuk bumi ini.

Izinkan aku berterima kasih pada orang-orang yang membentuk kesejarahan Wana Patria. Mas Tanto dan Mas Cahyo, aku berterima kasih pada mereka. Tanpa ide-ide yang brilian dari keduanya, dan tanpa perdebatan-perdebatan seru keduanya, tanpa konsistensi mereka untuk memberi yang terbaik, biarpun dengan “berdarah-darah”, Wana Patria tidak mungkin jadi seperti sekarang. Ya, aku belajar untuk menjaga konsistensi. Aku belajar juga untuk terus mengaktifkan “mata ketiga”, melihat tanda-tanda zaman. Bahwa zaman mengharuskan kita untuk tidak bicara ndakik-ndakik, tapi berbuat dan berbuat. Memberi contoh, mengembangkan model yang inspiratif sungguh keutamaan di zaman ini.

Aku juga berterima kasih pada para suster: Sr Stefani SSpS, Kristina Wahyu yang saat itu masih di SSpS. Aku melihat keterlibatan sejati, keterlibatan yang tanpa syarat. Tidak semua pihak setuju dengan adanya Wana Patria. Tapi mereka teguh bertahan bahwa Wana Patria, rumah belajar kearifan lingkungan yang bakalan dikembangkan, merupakan karya yang luar biasa. Dan mereka telah membuktikannya.

Mas Nono, Mas Albert, Mas Suba, Mas Isnawan, Mbak Anna. Mereka juga pembabat alas Wana Patria. Aku ingat benar bagaimana Mas Nono dan Mas Albert mengeprasi pohon-pohon yang sudah tidak produktif, dengan cekatan. Mas Suba dan Mas Isnawan dulu berkarya penuh di Biara Roh Kudus dan mereka cabut untuk berkarya di Wana Patria. Mas Suba nggak jadi ke Malaysia untuk jadi TKI. Padahal dia sudah bayar uang mukanya lho. Kini Mas Suba punya keahlian di bidang composting dan sudah memfasilitasi berbagai macam training pengomposan di kota Blitar. Mas Isnawan, kini memang tak lagi bergabung di Wana Patria. Tapi taman-taman garapannya di Wana Patria menunjukkan bahwa dia bekerja dengan sepenuh hati untuk menampilkan siapa dirinya. Mbak Anna adalah dokter hewan cantik yang merancang area peternakan dan perikanan di Wana Patria. Dia menggambar desain pet area ramah lingkungan. Aku sering melihat Mbak Anna melakukan presentasi hasil pemikirannya di hadapan para suster di Biara Roh Kudus. Terkadang ia harus mendatangi satu per satu dari para suster untuk meyakinkan bahwa apa yang dipikirkannya tentang peternakan ramah lingkungan sebaiknya dijalankan.

Ada lagi dua orang penting di balik sejarah Wana Patria yang juga ingin kusebutkan di sini. Yakni Mas Jojo dan Suster Helena. Keduanya memegang keuangan Wana Patria sejak Wana Patria masih jadi jabang bayi. Kalau Wana Patria bisa jadi seperti sekarang, memiliki infrastruktur yang memadai dan keuangannya ter-manage secara baik, itu pasti hasil kerja keras mereka. Padahal mereka masih memiliki pekerjaan rutin.

Mas Marno, sering mengantar Mas Cahyo, Mas Tanto, dan aku ke sana-sini, terutama trayek Surabaya - Blitar pas lagi ribet-ribetnya pembangunan Wana Patria. Terima kasih.

Hmmm, siapa lagi? Masih banyak, termasuk. Mas Agus, Pak Mayar, Pak Bardi.

Penghargaan sedalam-dalamnya juga kusampaikan pada alm. Pak Suyoso, yang menghembuskan napas terakhirnya di saat ia sedang giat-giatnya berkarya membangun rumah kompos Wana Patria. Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT.


Ya Allah Yang Maha Kasih, berikan kemudahan jalan bagi semuanya. (Alpha Savitri)*